Kasus-kasus Korupsi Keterlaluan di Sumsel: Tanah Kuburan-Proyek Masjid

Tim detikcom - detikNews
Senin, 04 Okt 2021 12:39 WIB
Pembangunan Masjid Sriwijaya Palembang mangkrak akibat dananya dikorupsi. Warga menyebut bangunan tersebut menjadi sarang babi dan ular berbisa. (Prima Syahbana/detikcom)
Pembangunan Masjid Sriwijaya Palembang mangkrak akibat dananya dikorupsi. Warga menyebut bangunan tersebut menjadi sarang babi dan ular berbisa. (Prima Syahbana/detikcom)
Jakarta -

Kasus dugaan korupsi proyek Masjid Sriwijaya di Palembang yang menjerat mantan Gubernur Sumatera Selatan (Sumsel) Alex Noerdin menambah daftar kasus korupsi keterlaluan di Sumsel. Sebelum kasus ini, ada juga kasus korupsi lahan kuburan yang terjadi di Sumsel.

Kasus korupsi lahan kuburan itu menjerat Wakil Bupati Ogan Komering Ulu (OKU) nonaktif, Johan Anuar, sebagai tersangka. Kasus ini telah masuk ke meja hijau dan sedang berproses di Mahkamah Agung.

Berikut ini dua kasus korupsi keterlaluan yang terjadi di Sumsel:

1. Korupsi Lahan Kuburan di OKU

Johan Anuar awalnya ditetapkan oleh polisi menjadi tersangka kasus korupsi pengadaan tanah kuburan. Johan ditetapkan polisi sebagai tersangka pada 2018. Dia kemudian melakukan gugatan praperadilan dan menang.

Polisi kembali menetapkan Johan sebagai tersangka dalam kasus serupa pada awal Desember 2019. Johan sempat ditahan pada 14 Januari dan dikeluarkan dari tahanan pada 12 Mei karena masa penahanan habis.

KPK kemudian mengambil alih penanganan kasus dugaan korupsi pengadaan tanah kuburan yang bersumber dari APBD 2013 senilai Rp 6 miliar dari Polda Sumsel. Menurut KPK, kasus ini dinilai sulit jika ditangani oleh polisi. Kasus korupsi ini diduga mengakibatkan kerugian negara senilai Rp 5,7 miliar.

KPK kemudian menuntaskan penyidikan dan melimpahkan kasus ini ke pengadilan. Johan pun mulai disidang.

Dalam dakwaan jaksa, Johan disebut telah mengarahkan proses pengadaan tanah untuk tempat pemakaman umum seluas 10 hektare di Kabupaten OKU. Perbuatan Johan itu dinilai melanggar sejumlah aturan, dari pengadaan tanah bagi kepentingan umum, pajak bumi dan bangunan, hingga pemerintahan daerah.

Selain itu, perbuatan Johan diduga telah memperkaya diri sendiri senilai Rp 3 miliar dan sebidang tanah Rp 600 juta. Perbuatan Johan juga diduga telah memperkaya orang lain, yakni Najamudin senilai Rp 200 juta dan Hidirman senilai Rp 1,8 miliar.

"Yang dapat merugikan keuangan negara atau perekonomian negara yaitu merugikan keuangan negara sebesar Rp 5,7 miliar atau setidak-tidaknya di sekitar jumlah itu," ucap jaksa.

Persidangan terus berjalan. Johan kemudian dituntut hukuman 8 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan.

Dia juga dituntut untuk membayar uang pengganti senilai Rp 3,2 miliar. Johan dinilai bersalah melanggar Pasal 2 ayat 1 juncto pasal 18 UU Pemberantasan Tipikor juncto pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP.

Hakim kemudian menyatakan Johan Anuar bersalah dalam kasus korupsi lahan kuburan ini. Dia dijatuhi hukuman 8 tahun penjara, denda Rp 500 juta subsider 6 bulan kurungan dan wajib membayar uang pengganti Rp 3,2 miliar.

Johan tak terima dan mengajukan banding. Permohonan banding Johan diterima dan hukumannya disunat menjadi 7 tahun penjara dan denda Rp 200 juta subsider 6 bulan kurungan serta uang pengganti Rpp 3,2 miliar.

Johan masih tak terima dan mengajukan kasasi. Dalam situs SIPP PN Palembang, berkas kasasi itu dikirim pada Rabu (22/9). Belum ada putusan kasasi yang tertera dalam situs tersebut.

Simak video 'Menjelajah Masjid Sriwijaya yang Katanya Jadi Sarang Ular-Babi':

[Gambas:Video 20detik]