Segera Disidang, Begini Gambaran Kasus yang Menjerat Munarman

Tim detikcom - detikNews
Senin, 04 Okt 2021 12:19 WIB
Munarman selesai menjalani pemeriksaan sebagai saksi terkait kasus penculikan dan penganiayaan Ninoy Karundeng. Munarman tampak meninggalkan Polda Metro Jaya.
Munarman (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Mantan Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) Munarman akan segera disidang. Munarman segera disidang setelah berkas perkaranya dinyatakan lengkap.

Munarman ditangkap pada 27 April 2021 di rumahnya, di Pamulang, Tangerang Selatan. Dia ditangkap setelah ditetapkan sebagai tersangka pada 20 April 2021 dan kemudian dilakukan penahanan.

Munarman ditangkap terkait dengan terorisme. Dia diduga menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme.

"Munarman diduga menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme, bermufakat jahat untuk melakukan tindak pidana terorisme dan menyembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme," kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono melalui pesan singkat pada 27 April 2021.

Terkait Aktivitas Baiat

Selain itu, penangkapan Munarman berkaitan dengan aktivitas baiat teroris yang dilakukan di tiga kota. Tiga kota tersebut ialah Jakarta, Makassar, dan Medan.

"(Ditangkap terkait) baiat di UIN Jakarta, kemudian juga kasus baiat di Makassar, dan mengikuti baiat di Medan," jelas Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Ahmad Ramadhan kepada wartawan di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Polisi bahkan telah memegang bukti video kehadiran Munarman dalam acara tersebut, termasuk pengakuan eks simpatisan ISIS Makassar, Muhammad Fikri Oktaviadi, dan simpatisan organisasi terlarang FPI, Anzhar.

Kala itu, dalam kesaksiannya, baik Fikri maupun Anzhar menyebut Munarman hadir dalam baiat teroris di Makassar yang dihadiri mereka.

Sembunyikan Info tentang Terorisme

Munarman juga diduga bermufakat melakukan aksi terorisme. Tak hanya itu, dia juga diduga menyembunyikan informasi perihal terorisme.

"Munarman diduga menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme, bermufakat jahat untuk melakukan tindak pidana terorisme, dan menyembunyikan informasi tentang tindak pidana terorisme," jelas Argo.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.

Saksikan juga 'Sahabat Munarman: Polri Ulur-ulur Waktu soal Berkas':

[Gambas:Video 20detik]