Ukuran Lubang Buaya Jakarta dan Sejarah Saksi Bisu Tragedi G30S/PKI

Arinta Putri Anggraini - detikNews
Jumat, 01 Okt 2021 14:46 WIB
Ukuran Lubang Buaya Jakarta dan Sejarah Saksi Bisu Tragedi G30S/PKI
Ukuran Lubang Buaya Jakarta dan Sejarah Saksi Bisu Tragedi G30S/PKI / Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Ukuran Lubang Buaya Jakarta ternyata masih dicari tahu sebagian orang kala peringatan tragedi G30S/PKI. Sumur Lubang Buaya adalah saksi bisu kekejaman PKI berujung tewasnya para jenderal.

Lubang Buaya sebenarnya merupakan sebuah nama Jalan yang terletak di Kelurahan Lubang Buaya, Kecamatan Cipayung, Jakarta Timur. Namun, ingatan masyarakat lebih lekat dengan Lubang Buaya di tragedi G30S/PKI.

Monumen Pancasila Sakti pun kerap dirujuk sebagai Lubang Buaya atau Monumen Lubang Buaya. Ulasan lengkap tentang Lubang Buaya Jakarta hingga ukuran Lubang Buaya dapat disimak di bawah ini.

Ukuran Lubang Buaya Jakarta Berapa? Ini Penjelasannya

Dikutip dari Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya Kemendikbud, Lubang Buaya ini adalah sebuah sumur tua yang ukurannya berukuran 75 centimeter dengan kedalaman 12 meter. Tempat ini merupakan saksi bisu kekejaman PKI yang membunuh dan membuang 7 Pahlawan Revolusioner RI, mereka adalah Letjen Ahmad Yani, Mayjen R Suprapto, Mayjen MT Haryono, Mayjen S Parman, Brigjen DI Pandjaitan, Brigjen Sutoyo Siswomiharjo, dan Lettu Pierre Tendean

Ada Apa Saja di Monumen Pancasila Sakti?

Informasi mengenai ukuran Lubang Buaya Jakarta sudah diketahui. Selanjutnya, ada ulasan mengenai serba-serbi Monumen Pancasila Sakti.

Masih dikutip dari Sistem Registrasi Nasional Cagar Budaya Kemendikbud, berikut ini tempat lainnya yang ada di dalam Monumen Lubang Buaya.

Ukuran Lubang Buaya Jakarta dan Sejarah Saksi Bisu Tragedi G30S/PKIUkuran Lubang Buaya Jakarta dan Sejarah Saksi Bisu Tragedi G30S/PKI Foto: Agung Pambudhy


Rumah Penyiksaan

Rumah Penyiksaan ini letaknya di sebelah sumur maut. Pada saat terjadinya pemberontakan, serambi rumah ini digunakan oleh gerombolan G30S/PKI sebagai tempat menawan dan menyiksa para perwira AD sebelum akhirnya dibunuh dan dimasukkan ke dalam sumur maut.

Pos Komando

Tidak jauh dari Rumah Penyiksaan, berikutnya ada rumah kecil yang dijadikan sebagai Pos Komando. Rumah ini sebelumnya merupakan rumah milik seorang penduduk daerah Lubang Buaya yang bernama Bapak Sueb. Pada waktu peristiwa G30S/PKI, rumah ini dipakai oleh pimpinan gerakan yaitu Letkol Untung untuk mempersiapkan penculikan terhadap tujuh perwira AD.

Dapur Umum

Dapur umum ini dulunya dipakai oleh gerombolan PKI untuk melawan anggota pasukan pemberontakan. Rumah ini dipertahankan keasliannya mulai dari bentuk dan isi rumahnya hingga perabotan yang ada di dalamnya.

Mobil-mobil Tua Peninggalan Pahlawan Revolusi

Tidak jauh dari Rumah Dapur Umum, terdapat sebuah truk besar bertuliskan "PN. Artha Yasa". Truk model Dodge tahun 61 ini merupakan replika kendaraan jemputan PN. Truk itu digunakan para pemberontak untuk menculik dan mengangkut Jenazah Brigjen D.I Panjaitan dari kediamannya menuju daerah Lubang Buaya, Jakarta timur.

Kemudian terdapat dua mobil tua, yaitu Mobil yang pertama adalah Mobil Dinas yang pernah digunakan oleh salah seorang Pahlawan Revolusi yaitu Jendral TNI Ahmad Yani sewaktu menjabat menteri/panglima Angkatan Darat (1962-1965). Mobil kedua adalah sebuah Jip, mobil dinas milik Pangkostrad Mayjen TNI Soeharto. Mobil ini digunakan Mayjen TNI Soeharto untuk memimin operasi penumpasan pemberontakan G30S/PKI. Terdapat pula kendaraan militer yang bernama Panser Saraceen. Panser dengan tipe PCMK-2 buatan inggris ini adalah panser yang mengangkut jenazah para Pahlawan Revolusi dari Markas Besar Angkatan Darat ke Taman Makam Pahlawan Kalibata.

Monumen Pancasila Sakti

Monumen ini terletak 45 m (melambangkan tahun kemerdekaan Indonesia) sebelah utara dari cungkup sumur maut. Patung para Pahlawan Revolusi berdiri dengan latar belakang sebuah dinding setinggi 17 m (melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia) dengan hiasan patung Garuda Pancasila. Ketujuh Patung Pahlawan Revolusi berdiri berderet dalam setengah lingkaran dari barat ke timur yaitu: Mayjen TNI Anumerta Soetojo Siswomihardjo, Mayjen TNI Anumerta D.I Panjaitan, Letjen TNI Anumerta R. Soeprapto, Jendral TNI Anumerta Ahmad Yani, Letjen TNI Anumerta M.T. Harjono, Letjen TNI Anumerta S. Parman, dan Kapten Czi Anumerta P.A. Tendean.

Di bawah patung tersebut terdapat sebuah relief yang menggambarkan peristiwa prolog, kejadian & penumpasan G30S/PKI oleh ABRI dan Rakyat. Di bawah relief juga terdapat tulisan "Waspada......Dan Mawas Diri Agar Peristiwa Sematjam Ini Tidak Terulang Lagi".

Museum Pengkhianatan PKI

Di lantai pertama museum ini, terdapat berbagai macam Diorama yang berhubungan dengan pemberontakan PKI di setiap daerah di Indonesia. Mulai dari Peristiwa 3 daerah, peristiwa revolusi sosial di langkat, pengacauan Surakarta, pemberontakan PKI di Madiun, Musso (pimpinan PKI) tertembak mati, pembunuhan massal di Tirtomoyo dan lain-lainnya.

Di lantai dua terdapat diorama-diorama pengadilan D.N Aidit, kampanye budaya PKI, peristiwa kanigoro, lahirnya MKTBP (Metode Kombinasi Tiga Bentuk perjuangan) PKI, Pawai ofensif revolusioner PKI di Jakarta, penyerbuan gubernuran Jawa Timur, peristiwa kentungan Yogyakarta dan lain-lainnya.

Museum Paseban

Museum Paseban diresmikan oleh Presiden Soeharto tanggal 1 Oktober 1981 bertepatan dengan dwi windu Hari Kesaktian pancasila. Kemudian dalam perkembangannya, diadakan renovasi yang gagasannya berasal dari Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono yang bertepatan dengan Hari Kesaktian Pancasila tahun 2007.

(imk/imk)