Kontemplasi Qalbu (7)

Meninggalkan Tipe Reaktif

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 01 Okt 2021 05:23 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Salah satu tujuan dalam memanaj kalbu ialah untuk mengubah watak dan karakter yang tadinya reaktif menjadi watak dan karakter proaktif. Untuk mengubah karakter yang negatif (reaktif) menjadi positif (proaktif) maka pertama kali kita perlu mengenal dan mengidentifikasi watak dan karakker reaktif dan watak dan karakter proaktif.

Kalangan ahli manajmen mengidentifikasi watak dan karakter reaktif antara lain: Perilaku ditentukan lebih besar oleh faktor luar/ekternal, seolah-olah tidak mampu memiliki keterbatasan untuk memiliki dirinya sendiri. Ia banyak ditentukan atau pasrah kepada kondisi dan menganggapnya sebagai nasib terhadap apa pun yang menimpa dirinya. Ia lebih mengacuh kepada perasaannya sendiri, terbatas mengambil inisiatif, sepertinya tidak punya gagasan dan ide. Tanggungjawab lebih besar ia serahkan kepada orang lain, karena selalu tidak siap menanggung akibat dan resiko. Ia lebih sering menyalahkan keadaan, kondisi, lingkungan, dan orang lain, lalu seolah melepas dari dari segala resiko. Ia sangat dipengaruhi oleh atmosfir lingkungan fisik dan fisiknya.

Di dalam melaksanakan tugas dan pekerjaan ia lebih banyak digerakkan oleh mood (kondisi perasaan), sehingga terkadang ia bersemangat tetapi tiba-tiba langsung down. Ia senang senang sekali dipuji. Seolah-olah hidup tanpa pujian tidak ada arti hidup baginya. Ia baik kalau diperlakukan baik dan buruk kalau diperlakukan buruk. Samasekali tidak memiliki jiwa besar dada lapang untuk menerima kenyataan pahit. Watak dan sikapnya lebih sering kelihatan defensive, selalu mempertahankan dan membela diri, sungguhpun nyata-nyata ia bersalah. Ia seolah-olah tidak pernah bersalah dan sulit mengakui kelebihan orang lain. Ia seperti sakit melihat orang lain sukses dan bersemangat melihat orang lain gagal. Orang seperti ini sangat berpotensi membangun istana di atas puing-puing kehancuran orang lain.

Tipe reaktif-emosional orang ini menjadi ciri khasnya. Ia sering dikategorikan dengan orang, seperti di dalam pepatah: "Datang tidak menguntungkan pergi tidak mengurangi". Orang lain bersyukur dengan ketidakhadirannya di dalam sebuah pertemuan. Ia termasuk tipe angin-anginan. Ke mana arah angina bertiup ke situ ia memalingkan mukanya. Ia seperti bungling yang tidak punya tempat tetap. Dengan kata lain tidak mengenal istiqamah di dalam hidupnya.

Pembawaan orang ini sangat fluktuatif, sulit dipegang janji dan komitmennya. Ia gampang marah, tidak memiliki sahabat abadi dan sahabat spiritual. Kebiasaannya suka memuji dan menjilat, tidak pernah dengan ikhlas menerima keberhasilan dan prestasi orang lain, dan dapat disimpulkan pasti banyak memiliki musuh, paling tidak orang-orang yang tidak simpatik terhadap dirinya.

Akibatnya, ia sering menerima kenyataan sebagai sasaran tindakan, dicemooh dan dijauhi orang lain. Ia seperti over loaded di dalam menjalani kehidupan, karena tersedot oleh energy negative dari dalam dirinya sendiri. Dengan sendirinya ia gampang lelah, mudah mengalami penurunan daya tahan tubuh dan menjadi sasaran berbagai penyakit dan epidemi. Pada akhirnya orang seperti ini mengakhiri hidupnya dengan berbagai macam penyakit di tengah kesendirian. Ia sepi dengan teman, karena tidak pernah menanam persahabatan dan silaturrahim. Bahkan sejumlah ayat dan hadis menggambarkan masa depan orang seperti ini di akhirat tidak bahagia. Na'udzu billah min dzalik.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)