Dramatis! Novel Baswedan dan Sumarsih Pegang Payung Hitam di Depan Istana

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Kamis, 30 Sep 2021 19:43 WIB
Momen Novel Baswedan dan Sumarsih memegang payung hitam di depan istana merdeka
Momen Novel Baswedan dan Sumarsih memegang payung hitam di depan istana merdeka. (Dok. Public Virtue)
Jakarta -

Novel Baswedan dan sejumlah pegawai KPK yang resmi dipecat hari ini menyambangi Taman Pandang Istana, Jakarta Pusat, untuk ikut mengantar surat berupa petisi terkait KPK ke Kemensetneg tadi sore. Sumarsih, ibu dari Wawan yang tewas saat Tragedi Semanggi I ikut hadir dalam pengantaran surat tersebut.

Dalam foto yang diterima detikcom, terlihat Novel dan Sumarsih berdiri bersama di Taman Pandang Istana. Keduanya memegang sebuah payung hitam bertulisan 'Brantas Korupsi' bersama-sama.

Novel tampak mengenakan batik cokelat dan topi hitam. Sementara Sumarsih menggunakan baju berwarna hitam.

Ahmad Sajali, salah satu anggota KontraS yang ikut mengantar surat, menegaskan aksi tersebut bukan Kamisan. Sajali mengatakan hari ini merupakan hari genting dalam agenda pemberantasan korupsi, ketika sejumlah lembaga masyarakat bergabung untuk bersolidaritas kepada 57 pegawai KPK yang dipecat.

"Hari ini karena kondisinya genting dalam agenda pemberantasan korupsi, hari ini karena tepat juga dengan hari terakhir setidaknya 57 pegawai KPK yang kena TWK, akhirnya kami menyampaikan solidaritas," ujar Sajali saat ditemui di lokasi, Kamis (30/9/2021).

"Dan tadi ada sebagian pegawai KPK yang kena TWK datang ke sini. Tadi ibaratnya kita bikin satu solidaritas lah buat teman-teman dan berfoto di depan Istana. Karena kayaknya rasanya sulit buat diterima di Istana lagi karena kan isu soal profesional atau isu soal tata kerja aja Pak Jokowi juga angkat tangan atau cuek," sambungnya.

Sajali menjelaskan, surat yang dikirim ke Kemensetneg itu berisi petisi yang ditandatangani 70 ribu orang di Change.org. Petisi tersebut dikirim dengan harapan hasil TWK bisa dianulir.

Lebih lanjut, Sajali membenarkan bahwa Novel Baswedan hadir dalam acara pengiriman surat tersebut dan berfoto bersama dengan latar belakang Istana. Namun kegiatan itu dibubarkan polisi karena berkerumun.

"Hadir Bang Novel Baswedan. Tentunya penyidik Kpk yang tentu kita sudah tahu sepak terjangnya selama ini. Niatnya cuma mau foto, nyampein petisi, udah pulang. Tapi dihambat oleh polisi, alasannya kerumunan. Bahkan foto-foto pun kita nggak boleh. Foto membelakangin Istana. Tapi tadi dihalang-halangin dengan alasan kerumunan," papar Sajali.

Adapun acara ini dihadiri oleh LBH Jakarta, KontraS, ICW, pegawai KPK yang tidak lolos TWK, hingga mahasiswa. Jumlah peserta yang hadir diperkirakan mencapai 80-100 orang.

Dikonfirmasi terpisah, Kapolsek Gambir AKBP Kade Budiyarta yang turut hadir di lokasi mengungkapkan alasan pembubaran kegiatan itu. Menurut Budi, saat ini di Jakarta masih PPKM level 3 sehingga tidak boleh ada kerumunan.

"(Surat) masih berkaitan dengan KPK. Tapi mereka cuma mengantarkan, sekarang bubar, karena memang masih PPKM, mereka sadar bahwa ini PPKM. Mereka tidak melaksanakan aksi, tapi mereka cuma mengantar surat," kata Budi.

Adapun Public Virtue Research Institute (PVRI) meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) mendengarkan suara publik yang meminta agar pemecatan 57 pegawai dibatalkan dan memberhentikan Firli Bahuri sebagai Ketua KPK.

"Kita menyaksikan bagaimana publik bersolidaritas terhadap 57 pegawai KPK melalui surat untuk presiden yang diserahkan siang ini. Lalu, kemarin ada gelombang demonstrasi oleh mahasiswa dan setiap hari ramai-ramai publik mengunjungi posko darurat KPK. Selain mematuhi temuan Komnas HAM dan Ombudsman atas hasil TWK, kuatnya dukungan publik tersebut seharusnya dapat membuat Presiden Jokowi lebih percaya diri dalam mengambil keputusan untuk membatalkan hasil TWK," terang Yansen Dinata, yang juga merupakan inisiator petisi #PecatFirli, melalui keterangan tertulis.

Simak Video: Detik-detik Novel Baswedan dkk Tinggalkan Gedung KPK

[Gambas:Video 20detik]



(eva/eva)