Akibat Tetanus, Satu Keluarga Gajah Terancam Mati
Rabu, 12 Apr 2006 16:53 WIB
Pekanbaru - Nasib apes menimpa satu keluarga gajah. Mereka ditangkap, diikat dengan rantai dan menyisakan infeksi serius. Malah sebagian ekor gajah mengalami tetanus. Mereka terancam mati. Menteri Kehutanan MS Kaban diminta segara membentuk tim investigasi. Keluarga malang ini adalah sekelompok gajah liar di kawasan hutan marga satwa (HMS) Balai Raja, Kabupaten Bengkalis, Riau. Sudah sebulan, 10 ekor gajah ini ditangkap Dinas Kehutanan dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau dalam program relokasi gajah. Namun relokasi ini justru menimbulkan malapetaka buat gajah itu sendiri. Menurut Syamsidar, aktivis WWF Riau, 10 ekor gajah ini mengalami luka serius di pergelangan kakinya. Luka ini timbul diduga karena ikatan rantai yang terlalu lama dan menimbulkan infeksi. Malah diduga penyebab infeksi lainnya, karena bekas tembakan obat bius di tubuh gajah. "Kondisi gajah ini sudah mengalami kondisi stres berat. Mereka terlalu lama untuk dilepas kembali ke habitatnya. Kini tim medis menangani 10 ekor gajah tersebut," kata Syamsidar saat dihubungi detikcom, Rabu (12/04/2006) di Pekanbaru. Akibat infeksi ini, dua ekor gajah remaja jantan dan betina mengalami tetanus. Gajah jantan itu kini tidak bisa bangkit dari tudurnya. Tetanus yang dialami dua gajah ini sudah pada tingkat kritis, sehingga keduanya terancam mati. "Sedangkan satu ekor gaah betina remaja, walau mengalami tetanus kondisinya tidak separah gajah jantan," kata Syamsidar. Sedangkan aktivis WWF Riau lainya, Nurchalis Fadli mengatakan, dalam kasus relokasi gajah ini sebaiknya Menhut MS Kaban melalui Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi (PHK) diminta segera untuk membentuk tim investigasi yang independen. Tim ini berguna untuk mengungkap semua program relokasi yang menyisakan masalah. "Tim ini kita harapkan bisa mengungkap penyebab dari infeksi yang dialami gajah tersebut. Tidak sebatas itu saja, tim harus mengungkap apakah program relokasi gajah yang dilakukan selama ini sudah memenuhi standar atau belum," kata Fadli. Dengan dibentuknya tim investigasi, lanjut Fadli, akan diketahui secara pasti siapa yang salah dalam menjalan program relokasi ini. Sekarang untuk menuding salah satu instansi pemerintah sangat sulit. "Itu sebabnya, segera dibentuk tim investigasi, agar semua pihak juga tahu siapa yang salah dalam menjalankan program relokasi gajah ini," tegas Fadli. Program reloksi gajah di Riau yang dilakukan selama ini, menurut Fadli memang harus ditinjau ulang. Berbagai kasus yang terjadi, relokasi gajah bukan menyelesaikan konflik dengan manusia. Justru relokasi gajah hanya menimbulkan konflik baru di lokasi lainnya. "Salah satu jalan terbaik dalam mengatasi konflik gajah dengan manusia, tentunya pemerintah harus mampu menjaga habitat gajah itu sendiri. Sepanjang habitat gajah terus dijarah, maka sepanjang itu pula ancaman kematian gajah di Riau," kata Fadli.Ditangani Tim Medis Saat ini, ada empat dokter hewan yang diturunkan ke lokasi untuk menangani gajah-hajah itu. Menurut Fadli, sebelumnya hanya ada dua dokter yang menangani berbagai penyakit yang diderita gajah liar itu. Tapi belakangan, karena kondisi gajah yang kian memprihatinkan, maka tim dokter pun ditambah.Selain terkena tetanus, dari 10 ekor gajah itu, satu di antaranya, gajah jantan remaja juga tidak bisa buang air besar. Kondisinya kian kritis. Saat ini gajah ini ditangani oleh dokter hewan asal Jerman yang didatangkan Yayasan Gajah Sumatera (Yagusa), Christoper.
(asy/)











































