Eksekutor Penembakan Ketua Majelis Taklim di Tangerang Dibayar Rp 50 Juta

Yogi Ernes - detikNews
Selasa, 28 Sep 2021 14:41 WIB
Tangerang -

Polisi mengungkapkan penembakan paranormal A yang juga Ketua Majelis Taklim di Pinang, Kota Tangerang, direncanakan tersangka utama Matum. Matum menjanjikan imbalan Rp 50 juta kepada eksekutor.

"Bayaran yang dikeluarkan sekitar Rp 60 juta, yang Rp 50 juta untuk eksekutornya, dan Rp 10 juta kepada saudara Y yang sekarang DPO," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus kepada wartawan di Polda Metro Jaya, Jakarta, Selasa (28/9/2021).

Tersangka Matum merencanakan pembunuhan itu karena memendam dendam. Matum cemburu lantaran istrinya diduga berselingkuh dengan korban pada 2010.

Setelah bertahun-tahun, Matum kemudian mulai berniat membunuh korban pada 2019. Saat itu kakak dari Matum meninggal dunia yang diklaimnya akibat bercerai dari istrinya.

Matum menuding perceraian kakaknya dengan sang istri itu akibat berselingkuh dengan korban, yang juga berselingkuh dengan istri Matum.

Hingga pada 30 Juli 2021, Matum berkenalan dengan tersangka Yadi di dekat rumah istri keduanya di Kabupaten Lebak, Banten. Dalam pertemuan itu, Matum meminta Yadi mencarikan orang yang mau membunuh korban.

Yadi kemudian mengajak tersangka Kusnadi dan Saripudin untuk menjadi eksekutor. Yadi pun membawa Kusnadi dan Saripudin bertemu dengan Matum.

Pada 7 Agustus 2021, Kusnadi menyanggupi sebagai eksekutor dan meminta imbalan Rp 50 juta, sedangkan Yadi meminta Rp 10 juta. Matum kemudian menyanggupinya.

Menjelang hari H, para tersangka kian mematangkan rencana pembunuhan itu. Tersangka Kusnadi telah menyiapkan senjata api dan berlatih menembak.

Selama 3 hari, tepatnya mulai tanggal 15-17 September, Kusnadi dan Saripudin menyurvei rumah A. Hingga kemudian pada Sabtu (18/9), Kusnadi menembak A tepat di bagian pinggang hingga korban meninggal dunia.

Setelah itu keduanya melarikan diri dengan menggunakan mobil Yamaha Mio warna putih menuju Jl Raya Parung.

Para tersangka ditangkap oleh tim gabungan Polda Metro Jaya dan Polres Metro Tangerang Kota yang dipimpin oleh Kasubdit Resmob Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Handik Zusen, Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Awaludin Amin, Kompol Iskandar, Kompol Bonar Pakpahan, Kompol Resa Marasabessy, AKP Adam, AKP Reza Pahlevi, Iptu Fajar Kiansantang dan Ipda Roy Andarek.

Polisi: Penembakan Tak Terkait Kapasitas Ustaz

Polisi menyatakan korban tewas ditembak dalam kapasitasnya sebagai paranormal. Korban memang dikenal warga sekitar sebagai ustaz setelah menjadi ketua majelis taklim.

"Jadi saya tekankan di sini bahwa korban adalah paranormal. Peristiwa pembunuhan ini tidak terkait predikatnya dalam kapasitas ustaz, karena memang bukan ustaz. Jadi ustaz, dipanggil ustaz oleh lingkungan sekitarnya, adalah ketika dia menjadi ketua majelis taklim saja," kata Dirkrimum Polda Metro Jaya Kombes Tubagus Ade Hidayat kepada wartawan di Mapolda Metro Jaya, Selasa (28/9/2021).

Kepastian mengenai latar belakang korban ini didapat polisi dari keterangan saksi. Selain itu, polisi menemukan barang bukti di rumah korban.

"Dia tidak mengajarkan ngaji, tidak mengajarkan ilmu agama, tidak mengajarkan ini. Latar belakang ini menjadi sangat penting bagi arah penyelidikan selanjutnya. Kalau memang ternyata kita pastikan bahwa yang bersangkutan adalah paranormal. Dari para saksi yang sudah diperiksa satu yang pernah berobat di sana. Yang kedua dari barang bukti yang ditemukan di rumah korban. Apa saja itu? Daftar buku tamu dengan berbagai macam keperluannya. Artinya, si orang ini melayani itu," ujar Tubagus.

(mea/knv)