Tuduhan Gatot soal Komunisme Menyusup di Tubuh TNI Dinilai Perlu Bukti

Eva Safitri - detikNews
Selasa, 28 Sep 2021 07:14 WIB
Jakarta -

Mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo menyatakan bukti komunis masih ada di Indonesia terkhusus di institusi TNI, dilihat dari hilangnya sejumlah barang di Museum Dharma Bhakti, Markas Kostrad, Gambir, Jakarta Pusat (Jakpus). Pengamat militer dan intelejen Nuning Kertopati menilai harus ada pembuktian atas tuduhan itu.

"Menurut saya harus ada pembuktian atas tuduhan tersebut agar tak jadi fitnah bagi TNI. Adapun ada benda yang hilang tentu hal tersebut tak bisa begitu saja sebagai bukti adanya komunis di tubuh TNI," kata Nuning, kepada wartawan, Senin (27/9/2021).

Nuning menyarankan Gatot untuk melaporkan ke pihak yang berwajib jika menemukan adanya indikasi tersebut. Jangan sampai menurutnya info yang belum terbukti itu terus berkembang hingga menjadi sebuah kebenaran.

"Jadi apabila memang ada indikasi penyusupan atau bahkan penyebaran paham komunis di tubuh TNI silakan dilaporkan agar dapat diproses hukum. Tentu ke pihak berwajib yaitu Polri bukan menyampaikannya ke media. Saat ini kan jaman peperangan asimetris dan juga berkembangnya post truth, jangan sampai info yang berpotensi timbulkan kegaduhan ini merupakan post truth," ujarnya.

Diketahui, post-truth adalah sebuah kondisi di mana fakta tidak terlalu berpengaruh dalam membentuk opini publik dibandingkan dengan emosi dan keyakinan personal. Nuning lantas menjelaskan ada tiga strategi yang digunakan dalam perang asimetris.

"Perang asimetris secara umum memiliki strategi menggunakan non state aktor (perusahaan, organisasi media, bisnis, gerakan pembebasan rakyat, kelompok lobi, kelompok agama, badan-badan bantuan, dan aktor kekerasan non-negara seperti pasukan paramiliter), strategi pendadakan (strategic surprise), tidak terorganisir, serta mencari kemenangan dengan merontokkan atau menyusutkan kekuatan musuh, bukan dengan menghadapinya," ujarnya.

Nuning juga mengatakan seiring perkembangan zaman perang itu juga merambah ke infrastruktur internet. Hal ini bisa dibilang ancaman siber yang sudah terjadi di berbagai belahan dunia.

"Selain itu, seiring dengan perkembangan Internet of Things (IoT), maka peretasan ke infrastruktur kritis, pencurian data strategis, spionase dan propaganda di media sosial, radikalisasi di dunia maya, terorisme dan berbagai ancaman siber lainnya tengah berlangsung di berbagai belahan dunia," tutur Nuning.

Simak selengkapnya di halaman berikut