Wanita Ngaku Diperkosa Oknum DPRD Maros Dipaksa Gugurkan Kandungan

Hermawan Mappiwali - detikNews
Senin, 27 Sep 2021 15:37 WIB
poster
Foto ilustrasi pemerkosaan. (Edi Wahyono/detikcom)
Makassar -

Wanita yang juga kader muda Partai Persatuan Pembangunan (PPP) DPC Maros, Sulawesi Selatan (Sulsel), IMS (25), mengaku tak hanya diperkosa rekan separtainya yang merupakan oknum anggota DPRD Maros, pria berinisial SS (36). IMS yang hamil akibat perbuatan SS dipaksa menggugurkan kandungan.

IMS menjelaskan, setelah diperkosa pada Desember 2019, dia kemudian dijebak untuk kembali berhubungan badan pada Januari 2020 dengan kedok memberi investasi. IMS lalu mengetahui dirinya telah hamil pada April 2020.

"Saya coba test pack terus hasilnya positif, saya coba hubungi dia dan ternyata dia sudah blokir saya," ucap IMS kepada detikcom, Sabtu (25/9/2021).

IMS mengaku mencoba menghubungi SS dengan cara menghubungi istrinya. Namun istri SS bergeming atas kabar hamilnya IMS.

"Saya beranikan diri saya kirimkan bukti test pack ke istrinya dan ada memang saya simpan itu nomor WA istrinya, istrinya tidak menanggapi," katanya.

Meski demikian, IMS mengaku upayanya itu tampak berhasil karena SS menghubungi dia setelah mengirim bukti tes kehamilan ke istri SS.

"Dia bilang, betul itu yang kamu kirimkan ibu? Saya bilang kalau kau tidak percaya datang saja buktikan sendiri, saya bilang begitu. Jadi waktu itu dia bilang, oh iya tunggu mi nanti saya jemput. Tapi besoknya dia baru datang jemput saya di kantor," ungkap IMS.

Pada akhirnya, SS menyewa kamar kos untuk IMS agar kehamilannya tidak tercium oleh orang tua IMS. Selama perjalanan mencari kamar kos, IMS mengaku diminta meminum obat yang ternyata untuk menggugurkan kandungannya.

"Waktu saya dapat mi kos saya kembali lagi dipaksa minum itu obat sama satu dimasukkan ke dalam kelamin," katanya.

Setelah berulangkali dipaksa mengkonsumsi obat tersebut, IMS mengaku ada gumpalan yang keluar dari alat vitalnya. Kandungannya pun gugur.

Setelah keguguran, IMS mengaku tetap tinggal di kamar kos tersebut dan SS rutin membayarkan sewa kos, termasuk uang bulanan, paling banyak Rp 300 ribu dalam sebulan.

Kondisi tersebut terus berlanjut hingga awal 2021. Setelah itu, SS lepas kontak sehingga IMS melaporkan SS ke polisi dengan alasan tak bertanggung jawab.

"Akhirnya saya putuskan untuk melapor di bulan 3 kemarin," ucap IMS.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya.