PKI dan Komunisme, Isu Tahunan Gatot Nurmantyo Jelang 30 September

Tim detikcom - detikNews
Senin, 27 Sep 2021 14:42 WIB
Jakarta -

Gatot Nurmantyo sudah rutin mengangkat isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) atau bahaya komunisme menjelang 30 September. Terbaru, kini Gatot melempar tudingan soal penyusupan komunisme ke tubuh TNI.

Berdasarkan catatan detikcom, pada 2016, Gatot menengarai isu PKI bisa saja diembuskan pihak tertentu untuk mengadu domba anak bangsa. Gatot kemudian mengaku merasakan kebangkitan PKI sejak 2008.

Gatot Nurmantyo menjabat Panglima TNI sejak 8 Juli 2015 hingga 8 Desember 2017. Gatot sebagai Panglima TNI hingga jenderal purnawirawan sudah berbicara soal isu PKI pada beberapa kali kesempatan.

Gatot pernah menghubungkan perintahnya untuk menggelar acara nonton bareng film 'Pengkhianatan G30S/PKI' di institusi TNI pada 2017 dengan pemecatan dirinya dari jabatan Panglima TNI. Terbaru, Gatot menyebut ada paham komunis yang menyusup ke tubuh TNI.

Dirangkum detikcom, Senin (27/9/2021), berikut ini catatan mengenai Gatot soal isu PKI, sejak menjabat Panglima TNI hingga sekarang:

16 Mei 2016: Duga ada adu domba

Saat itu, publik dihebohkan soal pesan berantai (broadcast message) soal kebangkitan PKI, 9 Mei disebut hari lahirnya PKI. Di sisi lain, ada orang yang ditangkap gara-gara memakai kaus bergambar palu-arit, pelesetan PKI, atau juga kaus bergambar ilustrasi kelompok musik genre metal luar negeri namun bergambar palu-arit. Ada pula demonstrasi anti-PKI.

Gatot menanggapi isu kebangkitan PKI dengan satu imbauan untuk tetap menjaga persatuan. Dia mengajak masyarakat tetap tenang tanpa terpengaruh isu yang mengarah ke perselisihan.

"Kan sudah disampaikan, bisa jadi itu adu domba kan," kata Gatot di Rupatama, Markas besar Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Senin (16/5/2016).

Dia mengingatkan jangan sampai peristiwa 30 September 1965 terulang. Peristiwa itu perlu diingat agar Indonesia tetap bersatu.

"Jadi yang dilakukan kita semuanya adalah mari kita wujudkan persatuan. Itu sudah masa lalu, masa lalu sebagai peringatan, jangan sampai terjadi lagi di masa kini," ujarnya.

2 Juni 2016: Neo-kapitalisme lebih berbahaya ketimbang PKI

Kala itu, ada simposium bertajuk 'Mengamankan Pancasila dari Ancaman PKI dan Ideologi Lain'. Acara dihelat di Balai Kartini, Jakarta.

Namun saat itu, Gatot berpendapat ideologi kapitalisme lebih berbahaya ketimbang PKI, yang dulu dikenal mengusung ideologi komunisme versi Marxisme-Leninisme. Gatot memberi contoh di negara-negara yang terimbas neo-kapitalisme dan neo-liberalisme.

"PKI berbahaya tapi yang lebih berbahaya neo-kapitalisme, neo-liberalisme," jelas Gatot di Jakarta, Kamis (2/6/2016).

Gatot memberi contoh di negara-negara yang terimbas neo-kapitalisme dan neo-liberalisme. Misalnya di Belanda, Prancis, dan Denmark, di sana gereja mulai kosong dan orang menjadi ateis. Namun entah bagaimana, Gatot lantas menghubungkan fenomena ini menjadi narasi pengantar masuknya komunisme.

"Komunis seperti setan diam-diam muncul. Di Eropa proses menuju ateis terjadi. Diawali dengan menjual gereja untuk properti. Tiap tahun gereja kehilangan 60 ribu jemaah. Kalau sudah ateis lalu komunis. Nggak terlihat tapi proses ini terjadi. Itu bisa terjadi di negara kita," kata Gatot.

Saat itu, dia menyampaikan bahwa komunis muncul saat kritis pada awal merdeka dari Belanda. Pada 1965, komunis melakukan pembantaian diawali krisis ekonomi dan kesenjangan sosial serta kepercayaan. Namun kini, bila Indonesia berhasil sejahtera, ideologi Pancasila akan tetap kuat.

"Kalau kita sejahtera apa pun ideologi di luar Pancasila nggak akan masuk. Seharusnya bersatu utamakan berkarya," ucap Gatot.