Wakil Ketua MPR Kagum Kabuyutan Dayeuh Luhur Implementasikan 4 Pilar

Khoirul Anam - detikNews
Minggu, 26 Sep 2021 15:48 WIB
Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid kunjungi Kabuyutan Dayeuh Luhur.
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR Jazilul Fawaid melakukan kunjungan ke komunitas Masyarakat Adat Kabuyutan Dayeuh Luhur, Gegerkalong, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu (25/9) lalu. Selain bersilaturahmi, kunjungan tersebut bertujuan untuk lebih mengenal komunitas yang dikenal memegang teguh tradisi dan budaya leluhurnya ini.

Kedatangan Pimpinan MPR dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini disambut langsung Abah Yusuf, sesepuh dan tokoh Kabuyutan. Adapun Jazilul langsung dibawa ke padepokan berbentuk bangunan lantai dua berbahan dasar bambu dan material alam lainnya.

Sebagai tamu kehormatan, Jazilul disuguhi berbagai panganan khas dan berkesempatan menyaksikan pagelaran seni pencak silat yang dibawakan oleh anak-anak muda Kabuyutan.

"Alhamdulillah, saya diberi kesempatan sowan ke Kabuyutan Dayeuh Luhur. Masyarakat adat ini merupakan salah satu sentrum pelestarian nilai-nilai budaya suku Sunda di Jawa Barat. Dari perbincangan dengan Abah, saya tangkap memang komunitas ini sangat teguh berpegang dan berperilaku mengikuti tradisi leluhur," ujar Jazilul dalam keterangannya, Minggu (26/9/2021).

Ia pun mengapresiasi sikap masyarakat adat Kabuyutan yang menjunjung warisan leluhur. Sebab, menurutnya, di era sekarang banyak tradisi budaya asli Indonesia yang tergerus perkembangan zaman dan dikhawatirkan akan menghilang.

Menurutnya, masyarakat adat Kabuyutan masih bisa merawat budaya leluhur, terutama kepada generasi muda, sehingga budaya tetap terjaga.

"Yang membuat saya makin kagum adalah pesan dari Abah bahwa bagi seluruh warga Kabuyutan, NKRI dan merah putih adalah harga mati serta kebhinnekaan Indonesia mesti dijaga. Ternyata semangat empat pilar yang merupakan misi MPR sudah lama diimplementasikan di sini," katanya.

Di samping itu, ia juga menjelaskan, pesan yang ditangkap dalam kunjungan itu adalah bahwa hidup harus manis. Walaupun dalam menjalani kehidupan bertemu dengan asam, pahit, dan getir, manis harus diraih dengan upaya yang baik.

"Menurut saya, apa yang disampaikan Abah itu sangat sesuai dengan perjalanan bangsa ini. Selama 76 tahun rakyat Indonesia pasti menemui pahit, getir, susah, sengsara dalam menjalani proses membangun bangsa. Tapi, semua harus dirasakan manis. Sebab, rasa manis ini akan mengukuhkan kita dan memberikan semangat. Saya rasa nilai-nilai tersebut bisa kita pelajari dan diterapkan dalam situasi bangsa sulit akibat pandemi ini," terangnya.

Sebagai informasi, Jazilul juga menerima hadiah khusus dari Abah Yusuf berupa ikat kepala kain yang biasa dipakai para tetua Kabuyutan, serta satu setel pakaian adat berwarna hitam.

(fhs/ega)