Disdik DKI Tetap Tak Temukan Ada 25 Klaster COVID-19 Akibat PTM

Tiara Aliya Azzahra - detikNews
Jumat, 24 Sep 2021 12:37 WIB
Nadiem Makarim tinjau sekolah tatap muka (PTM) terbatas di Jakarta Timur
Foto: Mendikbud Ristek, Nadiem Makarim meninjau kegiatan PTM di Jakarta Timur (Dok. Kemendikbudristek)
Jakarta -

Dinas Pendidikan (Disdik) DKI Jakarta telah menelusuri data survei Dirjen PAUD Dikdasmen Kemendikbud soal temuan 25 klaster saat pembelajaran tatap muka (PTM). Hasilnya, Disdik DKI tak menemukan kasus positif COVID-19 pada 25 klaster sekolah yang dilaporkan situs Kemendikbud.

Survei tersebut tak menggambarkan temuan kasus di masa PTM saat ini dijalankan. Sebab, survei itu dilakukan pada periode Januari-September 2021.

"Survei yang dilakukan DirjenPAUD Dikdasmen tersebut adalah survei yang dilakukan kepada responden sekolah dan bukan berdasarkan hasilsurveilans Dinas Kesehatan tentang kasus positif yang ditemukan," kata Kepala Dinas Pendidikan DKI Jakarta, Nahdiana dalam keterangan tertulis, Jumat (24/9/2021).

Nahdiana menerangkan, dari 25 sekolah yang ditelusuri, hanya 2 sekolah yang masuk ke dalam 610 sekolah yang menggelar PTM terbatas sejak 30 Agustus lalu. Selain itu, sekolah tersebut tidak melaporkan kasus positif COVID-19.

"Yaitu SMP Cindera Mata Indah dan SMKS Yadika 2 Jakarta. Berdasarkan data di lapangan, sejak dimulai PTM terbatas tahap 1, tidak terdapat kasus COVID-19 di sekolah tersebut, baik dari peserta didik maupun pendidik dan tenaga kependidikan," jelasnya.

Ke depannya, Disdik DKI Jakarta akan menggelar rapid tes antigen secara rutin di sekolah yang melakukan PTM terbatas. Nahdiana meminta warga sekolah disiplin menerapkan protokol kesehatan COVID-19.

"Dinas Pendidikan Provinsi DKI Jakarta juga bekerja sama dengan Dinas Kesehatan Provinsi DKI Jakarta untuk melakukan tes swab antigen secara berkala di sekolah-sekolah yang melakukan PTM Terbatas, untuk melihat positivity rate yang ada di sekolah," ujarnya.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dwi Oktavia menjelaskan satu sekolah dapat dikatakan klaster jika ditemukan lebih dari 1 kasus positif.

"Definisi klaster adalah ada minimal 2 kasus dan terbukti secara epidemiologi penularannya terjadi di sekolah. Adanya beberapa kasus di sekolah dalam satu waktu tidak memastikan apakah menjadi satu klaster atau tidak, karena mayoritas kasus yang ada saat ini adalah kasus yang berdiri sendiri, bukan menjadi klaster," terangnya.

Sebelumnya diberitakan, Pemprov DKI Jakarta belum menerima data 25 klaster terkait pembelajaran tatap muka (PTM) di Jakarta. Wagub DKI Jakarta Ahmad Riza Patria telah bersurat ke Kementerian Pendidikan (Kemendikbud) RI untuk memvalidasi temuan klaster di sekolah Jakarta.

"Kami sudah menyurati Kemendikbud minta data persis nya. Sejauh ini kita belum dapat data dari Kemendikbud makanya Dinas Kesehatan sudah bersurat, minta data dari Kemendikbud terkait adanya kemungkinan klaster di sekolah," kata Ahmad Riza Patria di Balai Kota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Kamis malam (23/9).

Simak berita lengkapnya di halaman berikutnya.

Simak Video: Satgas Minta Sekolah yang Ada Klaster PTM Ditutup Sementara

[Gambas:Video 20detik]