Jazilul Kritik Implementasi Kebijakan Pertanian, Kartel hingga Tata Niaga

Syahputra Eqqi - detikNews
Kamis, 23 Sep 2021 23:06 WIB
Jazilul Fawaid
Foto: MPR
Jakarta -

Wakil Ketua MPR, Jazilul Fawaid, mengatakan kebijakan pertanian di Indonesia sebenarnya sudah cukup ideal. Namun, ia mempertanyakan kenapa pertanian di Indonesia belum bisa menjadi negara agraris yang maju pertaniannya.

Pria yang akrab disapa Gus Jazil ini menambahkan, cita-cita bangsa ini untuk menjadi lumbung pangan dunia masih jauh dari kata berhasil. Buktinya, para petani Indonesia banyak yang hidup miskin. Selain itu, komoditas pangan Indonesia masih banyak yang bergantung pada impor.

"Menurut saya bukan soal kebijakannya saja, tetapi implementasi dari kebijakan yang ada. Masalahnya tidak semata-mata dari undang-undang, tentang kebijakan kita. Sampai hari ini petani kita atau Indonesia belum bisa disebut sebagai negara lumbung pangan dunia padahal pangan itu sangat penting. Hari ini kedaulatan pangan petani kita belum menjadi kekuatan, belum mampu menciptakan swasembada," ujar Gus Jazil dalam keterangannya, Kamis (23/9/2021).

Dalam acara Kebangkitan Tani hari ini, Wakil Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengatakan, sebelumnya pada era Orde Baru Indonesia pernah terdapat swasembada pangan.

"Dulu saya pernah di Komisi IV, kita memutuskan swasembada di 5 sektor, gula, padi, garam, kedelai, dan jagung. Tetapi sampai hari ini juga belum selesai. Pertanyaannya ini soal ideologi, atau anggaran, atau soal pembinaan dan implementasi," tambah Gus Jazil.

Menurutnya, hal ini menjadi persoalan besar ketika Indonesia sebagai negara agraris namun tidak mampu mengejar cita-cita untuk swasembada di sektor pangan dan tidak mampu menaikkan indeks kesejahteraan petani.

"Jangan berkata anggaran kita tidak cukup, tapi apakah benar semua program dan kebijakan yang sudah diputuskan itu mampu diimplementasikan. Lahan bermasalah, distribusi pupuk itu bermasalah, penyediaan bibit itu juga bermasalah. Bahkan petaninya pun bermasalah akhirnya karena indeks petani juga belum terlalu baik," urainya.

Lebih lanjut, Gus Jazil kembali menanyakan, apakah masyarakat dan anak-anak muda bangga menjadi petani? Sebab, menurutnya saat ini anak-anak muda justru meninggalkan sektor-sektor pertanian dan tidak bangga lagi untuk menjadi petani.

"Kalau begitu berarti ancaman ke depan kita bisa kekurangan pangan. Dan kalau kita kekurangan pangan atau ketahanan pangan kita rapuh maka negeri kita juga akan rapuh," tutur Gus Jazil.

Gus Jazil juga mengkritisi banyaknya permainan kartel di berbagai komoditi pertanian yang menyebabkan petani Indonesia tidak berdaya.

"Banyak produk pertanian yang menjadi game politik dalam konteks tata niaganya. Kartel ada di gula, kartel ada di kedelai, di bawang putih, kartel juga ada di daging," tegas Gus Jazil

Menurutnya, kebijakan tata niaga pertanian ini sangat penting untuk menjadi perhatian pemerintah. Sebab, sering kali ketika petani panen, kemudian harganya jatuh. Hal tersebut juga berlaku dalam kebijakan yang menyangkut harga komoditas pertanian, distribusi dan penjualan hasil pertanian.

Untuk itu, Gus Jazil menegaskan pihaknya mendorong Gerbang Tani untuk menjadi bagian dalam mengkritisi sekaligus mengoreksi dan mengawasi semua implementasi dari semua kebijakan pertanian, baik kebijakan dalam hal pengadaan bibit, kebijakan lahan, anggaran, termasuk tata niaga pertanian.

"Sebetulnya kebijakan pertanian kita itu cukup bagus, alokasi anggaran meskipun belum maksimal itu sudah ada, tetapi tata niaga, pembinaan kepada petani, mengatur komoditas-komoditas yang ditanam di setiap wilayah itu yang belum cukup baik," pungkas Gus Jazil.

Gus Jazil berharap, Gerbang Tani dapat menjadi pelopor atau perintis kembalinya Indonesia menjadi negara agraris yang berwibawa dan betul-betul menghasilkan komoditi-komoditi pertanian andalan dunia, serta menjadi sentrum kekuatan pertanian dan pangan dunia.

(mul/mpr)