Kontemplasi Qalbu (6)

Mengkritisi Faham Determinisme

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 24 Sep 2021 04:51 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Watak dan karakter setiap orang banyak ditentukan oleh cara pandang (world views) masing-masing. Boleh jadi cara pandang itu radikal, moderat, atau liberal. Tergantung pengaruh kognitif yang diperoleh seseorang. Persepsi orang tentang watak dan karakter masih sangat dipengaruhi oleh tiga faktor determinisme, yaitu determinisme genetis, determinisme psikis, dan determinisme lingkungan.

Determinisme genetis yaitu menganggap watak dan karakter ditentukan lebih besar oleh warisan DNA dari kakek-nenek. Pepatah mengatakan: "Buah tidak jatuh jauh dari pohonnya", sering digunakan untuk menggambarkan teori ini. Mungkin ini tidak salah tetapi perlu dikritisi bahwa ternyata di dalam kenyataan banyak watak dan karakter anak berbeda jauh dengan watak dan karakter orang tuanya. Seperti halnya banyak buah yang jatuh jauh dari batangnya karena diekspor ke luar negeri. Akan tetapi asumsi ini ada benarnya juga. Karena itu Rasulullah Saw meminta umatnya untuk mengawini orang dengan mempertimbangkan tiga hal, yaitu kecantikan/ketampanan, harta kekayaan, dan agama. Yang pertama dan ketiga tidak bisa dipisahkan dengan determinisme genetis.

Determinisme psikis, yaitu watak dan karakter ditentukan oleh collective-memory di masa kecil. Hal ini berhubungan dengan faktor kognitif yang terjadi pada diri seseorang. Jika sejak kecil seorang anak diinstal dengan watak dan karakter yang lembut dan santun maka sepanjang hidup orang itu akan sangat dipengaruhi oleh sikap lembut dan santun sebagaimana yang pernah tertanam di dalam alam bawah sadarnya. Namun ini juga tidak mutlak, karena kebiasaan lama bias dihapuskan oleh kebiasaan baru yang secara konsisten terus menerus diamalkan. Ini sesuai dengan firman Allah Swt: Innl hasanat yudzhibnas sayyiat (sesungguhnya kebiasaan baik dapat menghapuskan kebiasaan buruk).

Determinisme lingkungan, yaitu watak dan karakter seseorang ditentukan oleh alam dan sekitar domisili seseorang. Adaptasi fisik dan psikis seseorang bias sangat cepat berubah. Karena itu lingkungan domisili sangat penting diperhatikan. Jika kita berada di lingkungan penjual ikan maka kita akan berbau ikan dan jika kita berada di sekitar penjual minyak wangi maka badan kita akan wangi. Karena itu, Rasulullah Saw sangat menyerukan umatnya bergaul dengan orang-orang baik akar energy positif selalu melekat pada dirinya, dan menghindari lingkungan orang buruk supaya terbebas dari energy negative.

Allah Swt sejak dulu memperingatkan: Wala taqrabz zina innahu kana fahisyatan wa saa sabila (Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk) (Q.S. al-Isra'/17:32). Termasuk yang dimaksud ayat ini ialah mendekati kompleks perzinahan dan semacamnya. Ini semua menunjukkan bahwa faktor lingkungan sangat besar pengaruhnya di dalam perwujudan watak dan karakter.

Ketiga faktor determinisme di atas tidak bisa dimutlakkan salah satunya yang paling menentukan, karena boleh jadi setiap orang berbeda-beda tingkat resistensi dan adaptasinya dengan ketiga faktor tersebut di atas. Mungkin ada orang watak dan karakternya lebih ditentukan oleh factor genitis, tetapi yang lain lebih ditentukan oleh factor psikis, sementara yang lainnya lebih ditentukan oleh factor lingkungan. Yang mendekati kepastian ialah kita harus mencermati ketiga faktor tersebut mempengaruhi watak dan karakter seseorang, namun intensitasnya berbeda-beda. Tergantung kondisi obyektif dan subyektif setiap orang.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)