BPET MUI soal Napoleon Aniaya Kace: Tak Boleh Main Hakim

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 23 Sep 2021 08:54 WIB
Mantan Kadivhubinter Polri Irjen Napoleon Bonaparte divonis 4 tahun penjara. Ia terbukti bersalah menerima suap USD 370 ribu dan SGD 200 ribu dari Djoko Tjandra
Irjen Napoleon/Foto: Ari Saputra
Jakarta -

Wakil Sekretaris Badan Penanggulangan Ekstremisme dan Terorisme (BPET) MUI Muhammad Najih Arromadloni mengecam keras penganiayaan yang dilakukan Irjen Napoleon Bonaparte kepada Muhammad Kace. Dia mengatakan penistaan agama adalah kejahatan dan tak akan selesai jika dibalas dengan kejahatan juga.

"Penistaan terhadap agama apapun adalah sebuah hal yang terlarang. Al-Qur'an menyampaikannya dalam surat Al Anfal ayat 108, namun meski demikian, meskipun kita menolak penistaan agama tetapi penyelesaiannya bukan dengan menimbulkan kejahatan yang baru," kata Najih kepada wartawan, Rabu (22/9/2021).

Najih mengutip sebuah kaidah fiqih. Di situ disebutkan larangan soal menumpas kejahatan dengan kejahatan baru.

"Kaidah fiqih menyatakan, tidak boleh menghilangkan kejahatan dengan kejahatan yang baru. Tidak boleh menyelesaikan penistaan agama dengan penganiayaan atau main hakim sendiri," sambung Najih.

Gus Najih menuturkan agama Islam telah dinistakan sejak zaman nabi. Bahkan sejak zaman sebelum Nabi Muhammad.

"Sebetulnya kalau kita membaca sejarah, penistaan agama sudah terjadi berulang kali, bahkan pada masa Nabi Muhammad, bahkan pada nabi-nabi sebelum Nabi Muhammad," tutur Najih.