Apa Kabar PI Blok Cepu [1]
Jauh-jauh Hari, Bojonegoro Sudah Jemput Bola
Selasa, 11 Apr 2006 08:33 WIB
Surabaya - Apa kabar Bojonegoro yang calon kota minyak itu? Daerah berjuluk Bumi Angling Darmo dengan penduduk sekitar lebih 1,2 juta jiwa ini sekarang dilirik banyak investor kelas kakap tingkat nasional maupun internasional.Maklum, di daerah ini terkandung cadangan minyak dan gas (Migas) dalam jumlah sangat besar. Diperkirakan ada 800 juta barel minyak dan miliaran kaki kubik gas terpendam di bawah Bojonegoro, tepatnya di Kecamatan Ngasem dan Kalitidu.Pada perkembangan terakhir telah diteken JOA (Joint Operation of Aggreement) antara PT Pertamina selaku wakil pemerintah dengan ExxonMObil, perusahaan minyak dari Amerika Serikat (AS). Yang mana kepemimpinan operasional eksploitasi migas di Bojonegoro nantinya dipimpin ExxonMobil.JOA adalah "medan pertarungan" kepentingan antara PT Pertamina dengan ExxonMobil. Dan sekarang masih pro kontra dengan hasil itu termasuk juga latar belakang penguasaan Exxon atas Blok Cepu.Dan, lalu bagaimana dengan participating interest (PI) Bojonegoro sebagai daerah penghasil?Berdasar kesepakatan Hotel Shangrila Surabaya yang dikuatkan dengan ditekennya kesepakatan di Wisma Perdamaian Kota Semarang, Jateng, kabupaten yang sekarang dipimpin Bupati HM Santoso ini memperoleh lebih 4,4 persen dari bagian PI sebesar 10 persen.Bagian yang didapatkan Bojonegoro itu paling tinggi dibanding 3 daerah lainnya yang berhak mendapat PI: Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jatim, Pemprov Jateng, dan Pemkab Blora.Jika diasumsikan proyek eksploitasi migas Blok Cepu di Bojonegoro ini nantinya membutuhkan dana segar sebesar Rp 27 triliun, dengan perolehan PI 4,4 persen lebih, Bojonegoro mesti mempersiapkan dana segar lebih Rp 1 triliun dalam proyek tersebut.PAD Bojonegoro 1,6 TriliunHal itu sangat berat dipenuhi dari sumber keuangan daerah ini sendiri. Merujuk penjelasan Kepala Dinas Infokom Bojonegoro, Kamsuni, pada 2005 lalu, tingkat PAD daerah ini hanya Rp 40 miliar. Sedang kekuatan APBD 2005 sebesar Rp 400 miliar.Dengan demikian, daerah ini memperoleh suntikan keuangan dari tingkatan pemerintahan yang lebih tinggi hampir 90% dari kekuatan keuangan daerahnya. Atau sekitar Rp 360 miliar lebih pada tahun 2005.Bojonegoro selama ini merupakan daerah yang banyak disuplai sumber anggarannya oleh pemerintah pusat dan Pemprov Jatim. "Tapi, ketika migas nanti sudah dieksploitasi dan berproduksi, kita perkirakan PAD kita naik 2.200%. Ya, angka PAD kita sekitar Rp 1,6 triliun per tahun," tambahnya.Jauh-Jauh Hari Merangkul InvestorMengingat kondisi kantong keuangan daerah yang sangat terbatas di satu sisi, tapi di sisi lain daerah memiliki potensi kandungan migas yang luar biasa, maka pada 10 Oktober 2003 melalui rapat paripurna DPRD setempat telah disetujui pembentukan BUMD baru bernama Padner (Patra Asri Dharma Energi).BUMD ini nantinya bergerak di bidang migas dan representasi Bojonegoro dalam bersinergi dengan PT Pertamina, ExxonMobil, Pemkab Blora, Pemprov Jateng, dan Pemprov Jatim.PT Padner merupakan badan usaha patungan yang dibentuk PT Patra Angling Dharma Putra di bawah pimpinan H Ishadi (mantan pengusaha besar bidang gula di Jatim) dengan PT Asri Dharma Sejahtera (BUMD Pemkab Bojonegoro) di bawah pimpinan Ir H Poedjiono R.Jabatan Dirut Padner dipegang H Ishadi, sedang Bupati HM Santoso sebagai komisaris utama.Pengakuan PT Padner sebagai anak perusahaan BUMD Bojonegoro selain dikukuhkan lewat surat keputusan DPRD setempat, juga dibuktikan dengan pernyataan keluar secara formal dari Bupati HM Santoso kepada pihak lain, terutama Dirut PT Pertamina dan President Mobil Cepu Limited.Surat Bupati Bojonegoro itu antara lain tertanggal 10 Nopember 2003 dengan nomor surat 188/967/412.12/2003. Yang mana surat itu ditujukan kepada Dirut PT Pertamina Ariffi Nawawi dan President Mobil Cepu Limited di Jakarta. Lalu, surat Bupati Bojonegorp nomor 545/608/412.21/2004 tertanggal 24 September 2004, yang ditujukan kepada Dirut PT Pertamina, dan lainnya."Legalitas PT Padner sebagai mitra Pemkab Bojonegoro dalam kaitan PI migas Blok Cepu di daerah itu masih berlaku dan absah hingga sekarang. Belum dicabut sama sekali," tegas sebuah sumber detikcom.Saat dilangsungkan rapat paripurna DPRD setempat untuk mendengarkan presentasi pembentukan PT Padner disebutkan bahwa modal dasar perusahaan ini sebesar Rp 50 miliar.Di samping itu, ada modal yang ditempatkan sebesar Rp 15 miliar, dengan perincian: PT Asri Dharma Sejahtera sebesar Rp 2,25 miliar (15%) dan PT Parta Angling Dharma Putra sebesar Rp 12,5 miliar (85%).Dalam keputusan itu juga disebutkan adanya kesepakatan bahwa penyetoran modal PT Asri Dharma Sejahtera berasal dari pinjaman yang diberikan PT Patra Angling Dharma Putra.Pembayaran kembali pinjaman akan dibayar dari bagian keuntungan PT Patra Asri Dharma Energi (Padner) yang menjadi bagian dari PT Asri Dharma Sejahtera. Di samping itu, DPRD setempat juga menyetujui keikutsertaan desa menanamkan modal di PT Padner, namun pelaksanaannya akan diatur lebih lanjut."Visi dan misi yang diperjuangkan PT Padner tak sekadar mencari keuntungan dari Bojonegoro lalu dibawa keluar. Tapi, keuntungan migas itu harus dinikmati warga desa di seluruh Bojonegoro. Makanya, mereka juga merangkul desa-desa untuk bisa berpartisipasi dalam PT Padner terkait kepemilikan saham PI," tambah sumber detikcom.
(ary/)











































