Hukum Mengkafani Jenazah dan Sunnah dari Rasulullah SAW

Rahma Indina Harbani - detikNews
Rabu, 22 Sep 2021 06:00 WIB
Legenda bulutangkis Indonesia Markis Kido meninggal dunia. Sebelum dimakamkan, jenazah disalatkan di masjid dekat rumah duka di Kota Bekasi.
Foto: Rengga Sancaya/Hukum Mengkafani Jenazah dan Sunnah dari Rasulullah SAW
Jakarta -

Mengkafani jenazah hukumnya adalah fardhu kifayah bagi umat muslim yang masih hidup. Artinya, kewajiban ini bersifat kolektif.

Bila di dalam suatu wilayah ada beberapa orang yang melakukannya, kewajiban ini dianggap gugur atau sudah terpenuhi. Sebaliknya, jika orang-orang di suatu wilayah tersebut tidak ada yang mengerjakannya maka mereka semua akan dianggap berdosa.

Menurut buku Keutamaan Menjenguk Orang Sakit dan Tata Cara Mengurus Jenazah karya Tgk. Husnan M. Thaib, SHI, mengkafani jenazah artinya menutupi atau membungkus jenazah dengan sesuatu yang dapat menutup tubuhnya walau hanya sehelai kain. Tahapan ini dilakukan setelah jenazah muslim selesai dimandikan dan sebelum dishalatkan hingga dikubur.

Hendaknya dalam mengkafani mayat ini dilakukan dengan sebaik-baiknya sesuai dengan sunnah yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Beliau bersabda,

"Apabila salah seorang dari kamu mengkafani saudaranya, maka hendaklah ia mengkafaninya dengan baik," (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Daud dari Jabir).

Adapun sunnah yang perlu diperhatikan dalam mengkafani jenazah sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah SAW adalah sebagai berikut. Sunnah-sunnah ini dikutip dari buku Ringkasan Fikih Sunnah Sayyid Sabiq karya Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi dan buku Tata Cara Mengurus Jenazah: Praktis dan Lengkap Sesuai Sunnah Nabi Muhammad SAW yang ditulis oleh Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani.

Sunnah dalam Mengkafani Jenazah

1. Memilih kain yang baik, bersih, menutup seluruh badan, berwarna putih, dan diberikan wewangian. Dari Abu Said, Ibnu Umar, dan Ibnu Abbas, wewangian yang dianjurkan adalah wewangian dari asap kayu gaharu.

Rasulullah SAW bersabda,

"Jika kalian memberikan wewangian kepada mayat, maka lakukanlah tiga kali," (HR Ahmad, Ibnu Abu Syaibah, Ibnu Hibban, Hakim, dan Baihaqi).

2. Kain kafan hendaklah berjumlah 3 lapis bagi mayat laki-laki dan 5 lapis bagi mayat wanita. Hal ini berdasarkan hadits dari Aisyah RA, dia berkata,

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كُفِّنَ فِي ثَلاَثَةِ أَثْوَابٍ يَمَانِيَةٍ بِيضٍ سَحُولِيَّةٍ مِنْ كُرْسُفٍ، لَيْسَ فِيهِنَّ قَمِيصٌ وَلاَ عِمَامَةٌ

Artinya: "Rasulullah SAW dikafani dengan 3 kain putih dari Suhul (sebuah daerah di Yaman) yang masih baru, tidak ada gamisnya dan tidak ada sorban," (HR Bukhari).

Dibolehkan menggunakan 1 lapis kain bila tidak memiliki 2 lapis kain. Diriwayatkan dari Ummu Athiyah bahwa Rasulullah SAW memberikan kepadanya (kain kafan) satu lapisan sarung, baju, baju kurung, dan dua lapis kain.

3. Salah satu lapisan kain kafan jenazah menggunakan kain sejenis jubah bergaris. Dengan catatan bila hal tersebut mudah ditemukan. Sabda dari Rasulullah SAW berbunyi,

إِذَا تُوُفِّيَ أَحَدُكُمْ فَوَجَدَ شَيْئًا فَلْيُكَفَّنْ فِي ثَوْبٍ حِبَرَةٍ

Artinya: "Jika salah seorang diantara kalian meninggal dunia dan menemukan sesuatu, kafanilah ia dengan kain yang modelnya sejenis jubah yang bergaris," (HR Abu Dawud dan Baihaqi).

4. Tidak berlebihan dalam mengkafani jenazah, terlebih bila memberatkan jenazah. Hal ini dicontohkan dari sahabat nabi Abu Bakar yang berkata,

"Cucilah pakaianku ini dan tambahkan dengan dua kain lagi, lalu kafanilah aku (nanti) dengannya,"

Aisyah berkata, "Ini pakaian sudah lama."

Abu Bakar menjawab,

"Sesungguhnya orang yang hidup lebih membutuhkan pakaian baru dibandingkan orang yang mati. Pakaian kafan itu hanya untuk menunggu waktu kebangkitan (di alam kubur),"

Demikian penjelasan tentang hukum mengkafani jenazah beserta sunnahnya yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW. Selamat membaca ya.

Simak juga 'PMI Solo Sediakan Layanan Pengantaran Jenazah Pakai Mobil Mewah':

[Gambas:Video 20detik]



(rah/row)