Ahli Sosiologi Hukum Duga Napoleon Cuma Cari Pembenaran soal Hajar Kace

Farih Maulana Sidik - detikNews
Selasa, 21 Sep 2021 19:34 WIB
Trubus Rahadiansyah, pakar kebijakan publik dari Universitas Trisakti. (Dok Pribadi Trubus)
Foto: Trubus Rahadiansyah, pakar kebijakan publik dari Universitas Trisakti. (Dok Pribadi Trubus)
Jakarta -

Ahli Sosiologi Hukum Universitas Trisakti Trubus Rahadiansyah memberi pandangannya perihal kasus penganiayaan Irjen Napoleon Bonaparte kepada Muhammad Kace di dalam Rutan Bareskrim Polri. Trubus menilai bahwa penganiayaan itu terjadi karena masalah pribadi.

"NB (Napoleon Bonaparte) terutama ingin menunjukkan keadaan yang dialaminya kaitannya misalnya proses hukum yang pernah dialami, dia kecewa, marah gitu. Terus dia melampiaskan ke hal yang sebenarnya nggak ada hubungannya," kata Trubus kepada detikcom, Selasa (21/9/2021).

"Cuma dia mau cari yang sifatnya mendapat perhatian besar bahwa perbuatan itu seperti dibenarkan, gitu loh. Ada pembenarannya gitu lah, si MK-nya (Muhammad Kace) kan dianggap penista agama. Jadi mendapat dukungan," tambahnya.

Trubus menyebut apa yang terjadi dalam kejadian Napoleon dan Kace tidak ada hubungannya dengan yang sifatnya dukung mendukung dari kelompok tertentu. Menurutnya, kasus ini murni karena gejolak pribadi yang dialami keduanya, terutama Napoleon.

"Jadi tidak bisa ini kemudian dikaitkan dengan institusional apalagi dengan sifatnya dukung dukungan yang belakangan ada dukungan dari kelompok apa, kelompok apa, itu menurut saya udah nggak ada hubungan sama sekali," ucapnya.

Dia mengatakan M Kace sebagai tersangka penista agama pasti akan memancing pihak lain untuk bereaksi. Sebab, apa yang dilakukan M Kace menyinggung keyakinan umat Islam di Tanah Air.

Lebih jauh, Trubus menilai bahwa Napoleon sebetulnya tidak perlu juga membuat surat klarifikasi. Sebab, kata dia, apa yang disampaikan Napoleon dalam surat itu hanya mencari pembenaran atas ulah dirinya sendiri.

"Karena gini, dalam sosiologi itu interaksi, jadi kalau dalam interaksi itu ada pesan yang disampaikan, ketika pesan itu nggak sampe atau dipahami berbeda itukan menimbulkan ketersinggungan atau kerugian bagi pihak lain. Jadi kalau yang terjadi antara NB dan MK lebih menempatkan persoalan sebenarnya stimulus yang menurut saya lebih bersifat gejolak dalam dirinya NB itu. Seperti rasa frustrasi, rasa nggak percaya apa yang dialami, 'kenapa kok saya jadi begini', jadi ada pikiran psikologi yang kurang proporsional," jelasnya.

Simak selengkapnya di halaman selanjutnya: