Effendi: Pesaing Republik BBM Coba Pakai Jalur Penguasa
Senin, 10 Apr 2006 15:38 WIB
Jakarta - Kemelut yang menerpa Republik BBM disinyalir sebagai upaya dari para pesaing acara komedi satire di Indosiar ini. Mereka pun mencoba memakai jalur penguasa. Siapa saja mereka?"Ini persaingan bisnis yang menggunakan jalur pengusaha," tandas Effendi Gazali yang menjadi penasihat presiden Republik BBM kepada detikcom melalui telepon, Senin (10/4/2006).Kemelut dimulai pada pertemuan Wapres Jusuf Kalla (JK) dengan para pemilik stasiun televisi pada 7 April. Saat itu ada celetukan dari pihak stasiun televisi lain kepada Wapres, "Republik BBM mengerikan".Wapres kemudian berbicara dengan pemilik Indosiar Anthony Salim. Belum diketahui persis apa isi pembicaraan tersebut. Namun kemudian beredar SMS yang menyebut-nyebut Republik BBM akan distop penayangannya."Wapres nggak perlu ngundang media lagi, kalau hanya silaturahmi boleh saja," usul Effendi.Dituturkan Effendi, ada rencana jam tayang Republik BBM pindah dari pukul 22.00 WIB menjadi pukul 21.00 WIB. Sementara pada pukul 21.00 WIB di stasiun lain banyak tayangan mistik, sinetron, dan esek-esek."Mungkin Republik BBM akan mempengaruhi rating tayangan itu," duga Effendi yang mengklaim acara Republik BBM sebagai acara mendidik ini.Dengan demikian, lanjut dia, misteri pelarangan acara Republik BBM pelan-pelan mulai terkuak."Jadi kita tunggu, apakah Republik BBM benar-benar dilaporkan kepada JK karena perasaan sirik tanda tak mampu, atau potensi ancaman Republik BBM terhadap bisnis sinetron mistik danpenjual mimpi yang miliaran bahkan sampai triliunan tersebut," cetus Effendi.Siapa yang Sirik?Meski mengaku sudah diberitahu siapa saja mereka, namun Effendi menolak membeberkan nama 3 pemilik stasiun televisi yang disebut-sebut sebagai pemicu kemelut Republik BBM.Melalui surat elektronik kepada detikcom, Effendi hanya menguraikan informasi yang dihimpunnya dari pemberitaan sejumlah media. Berikut kesimpulannya:Pertemuan Jumat 7 April antara JK dengan para pemilik stasiun televisi di rumah JK antara lain dihadiri Choirul Tanjung (Trans TV), Abdul Latief (Lativi), Anthony Salim (Indosiar), Aburizal dan Nindya Bakrie (ANTV).Sedangkan Harry Tanoesoedibjo (RCTI, Global TV, dan TPI) tidak hadir karena sudah datang pada pertemuan antara JK bersama pemilik media cetak.Tiga owner televisi kemudian mengkritik Republik BBM terlalu keras. Celetukan yang disampaikan di depan JK itu membuat Anthony Salim merasa tidak enak.Namun JK kemudian malah mengkritik televisi yang banyak mempertontonkan brutalisme, seperti perusakan dan demonstrasi yang anarkis, sebab hal itu bisa mempengaruhi ekonomi. Lebih baik kritikan yang kreatif semacam Republik BBM.Jadi siapa 3 orang itu?
(sss/)











































