YPS Kisruh, Rektor UBK Korbannya

YPS Kisruh, Rektor UBK Korbannya

- detikNews
Senin, 10 Apr 2006 10:28 WIB
Jakarta - Pemecatan Rektor UBK bukan yang pertama kali dilakukan oleh Ketua Yayasan Pendidikan Soekarno (YPS). Kacaunya manajemen UBK dinilai karena yayasan terlalu banyak ikut campur dan tidak transparan dalam mengelola dana mahasiswa."Sebelum saya masuk, manajemen UBK kacau-balau. Tidak jelas bagaimana pengelolaannya," jelas Rektor UBK Muchyar Yara kepada detikcom melalui sambungan telepon di Jakarta, Senin (10/4/2006).Bahkan dijelaskan dia, perkuliahan di UBK sudah tidak berjalan lagi. Sejak tahun 2004 UBK tidak pernah lagi menerima mahasiswa baru."Para dosen sudah tidak mau mengajar lagi. Sudah 11 bulan gaji mereka tidak dibayar," ujar Muchyar.Pada akhir tahun 2005, sejumlah alumnus GMNI yang merasa prihatin dengan kondisi UBK berkumpul untuk mencari solusi pembenahan manajemen. Melalui mereka terkumpul dana segar sebesar Rp 5 miliar. Dengan syarat pihak YPS tidak ikut campur dalam manajemen UBK."Pada 16 Januari 2006 saya diangkat menjadi rektor dengan kesepakatan itu. Tapi sekarang pihak yayasan ingin mengambil alih kembali kendali manajemen UBK," kata Muchyar.Sejak menjadi Rektor UBK, Muchyar melakukan pembenahan di berbagai bidang. Gaji dosen dan karyawan yang tertunggak segera dibayarkannya. Manajemen akademik dan negosiasi dengan kontraktor mengenai pembangunan gedung baru dituntaskannya. Termasuk mempersiapkan rencana wisuda yang dilakukan pada 29 Maret lalu."Melihat UBK kembali sehat, dia (Rachmawati) ingin mengambil alih manajemen lagi. Ini Kampungan. Pemecatan seperti ini sudah terjadi beberapa kali, bahkan ada yang hanya bertahan sebulan," cetusnya.Kedepan, Muchyar akan terus bertahan sebagai Rektor UBK dan menolak pemecatan tersebut. Pihak investor dan sebagian besar civitas akademika UBK mendukung langkahnya."Saya akan tetap menjalankan tugas sebagai rektor," tegasnya. (bal/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads