UGM Siap Bantu Evaluasi RUU Ketenagakerjaan

UGM Siap Bantu Evaluasi RUU Ketenagakerjaan

- detikNews
Minggu, 09 Apr 2006 20:52 WIB
Yogyakarta - Rencana Presiden SBY melibatkan lima Perguruan Tinggi Negeri (PTN) untuk membuat survei, kajian dan penelitian berkaitan dengan revisi UU No 13/2003 tentang ketenagakerjaan disambut positif oleh Universitas Gadjah Mada (UGM). Namun hingga kini, UGM belum dihubungi oleh pemerintah berkaitan dengan rencana tersebut."Secara prinsip kita siap bergabung dengan perguruan tinggi lainnya, namun permintaan resmi dari pemerintah memang belum ada," kata Rektor UGM Sofian Effendi kepada wartawan disela-sela pemantauan Ujian Masuk Universitas Gadjah Mada (UM-UGM), di kampus Bulaksumur Yogyakarta, Minggu (9/4/2006).Dalam melakukan kajian, Dia menjamin perguruan tinggi akan berhati-hati, sebab masalah yang dibahas sangat sensitif. Dengan demikian, tim yang akan dibentuk juga harus berasal dari berbagai disiplin ilmu yang ada. Sebab masalah ketenagakerjaan tidak bisa jika hanya ditinjau dari satu sisi ilmu saja, harus dari multi disiplin.Ditambahkan Sofian, persoalan ketenagakerjaan saat ini dalam kondisi yang sulit. Namun disisi lain, kalangan buruh maupun masyarakat sudah tidak percaya lagi terhadap upaya pemerintah melakukan revisi UU itu."Antara dua pihak juga terjadi saling curiga. Semua hal yang dilakukan pemerintah sudah tidak dipercaya lagi oleh buruh," cetusnya.Apabila dicermati dalam pasal-pasal draf RUU yang dibuat pemerintah ada beberapa hal yang dinilai sensitif. Beberapa pasal, dinilai justru buruh menjadi korban karena haknya semakin terkurangi."Jadi sebaiknya, RUU tersebut harus diformat ulang sehingga kecurigaan antar kedua belah pihak bisa dihilangkan," sarannya.Sofian menilai positif pertemuan tripartit antara pemerintah, pengusaha dan serikat buruh. Hanya saja, pertemuan itu akan muncul kendala karena adanya faktor saling ketidakpercayaan."Hal itu bisa jadi kendala, buruh terutama, antar serikat buruh saja sudah saling tidak percaya apalagi dengan pemerintah ataupun pengusaha," tandasnya. (bal/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads