Sebulan Pisah, Temukan Keluarganya Terikat Rantai

Sebulan Pisah, Temukan Keluarganya Terikat Rantai

- detikNews
Minggu, 09 Apr 2006 19:45 WIB
Pekanbaru - Inilah kisah sedih menimpa satu keluarga. Mereka berpisah lebih sebulan. Belakangan dua sanak familinya menemukan keluarganya dalam keadaan terikat rantai. Menteri Kehutanan MS Ka'ban dituntut segera membebaskannya. Siapakah keluarga malang itu? Keluarga malang ini tidak lain adalah kawanan gajah di Riau. Dua ekor gajah selama ini ditinggalkan keluarganya. Dua ekor gajah masing-masing berusia 2 tahun dan satu ekor lagi diperkirakan 10 tahun. Mungkin mereka ini sudah malang melintang mencari 10 ekor keluarganya. Tapi akhir pekan ini, dua ekor gajah itu menemukan keluarganya dalam keadaan terikat rantai besi dan menimbulkan luka pada bagian kakinya. Pelaku pengingkat rantai itu tidak lain Menteri Kehutanan RI, MS Ka'ban melalui jajaranya yakni Dinas Kehutanan Provinsi Riau dan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Riau. Sepuluh ekor gajah ini, ditangkap para staf Menhut, dalam program relokasi gajah dari kawasan konflik dengan manusia. Pertemuan dua ekor gajah dengan sanak familinya ini cukup mengharukan. Dua ekor gajah ini menjerit di tengah hutan kawasan Hutan Marga Satwa (HMS) Balai Raja Kabupaten Bengkalis Riau. Tidak tahu apa makna dari jeritan dua ekor gajah yang bertemu dengan keluarganya itu. "Tapi yang jelas, gajah juga tidak ubahnya manusia. Mereka punya keluarga besar yang saling menyayangi dan melindungi sesamanya. Dua ekor gajah itu datang untuk bisa bergabung dengan 10 ekor yang telah ditangkap pemerintah," kata aktivis WWF Riau, Nurchalis Fadli saat dihubungi detikcom, Minggu (9/04/2006) di HMS Balai Raja. Dia memperkirakan, dua ekor gajah liar yang datang itu, merupakan keluarga besar dari 10 ekor gajah yang kini ditangkap pemerintah. Di lokasi penangkapan gajah ini, selain dijaga jajaran BKSDA, tim dari WWF juga melakukan pemantauan. "Dua ekor gajah yang datang ini tidak kita tangkap. Gajah itu kita biarkan saja bila mendekati keluarganya. Kami yakin, dua ekor gajah ini sudah lama mencari sanak familinya. Kasihan mereka. Gajah-gajah ini merupakan korban dari kebijakan pemerintah yang tidak bisa menjagat habitat mereka dari ulah manusia," kata Fadli. Andai gajah ini bisa bicara, mungkin tuntutan utamanya meminta Menhut RI segara membebaskan keluarga mereka. Mungkin lewat NGO internasional WWF Riau inilah, sebagai penyambung lidah dari tuntutan gajah itu. Menurut Fadli, pihaknya sudah memberikan batas waktu kepada pemerintah paling lambat 10 hari ke depan gajah liar ini harus segara dibebaskan. "Kita sudah koordinasi dengan pemerintah, agar secepatnya gajah ini dibebaskan dan dipindahkan kehabitat barunya. Kalau terus menerus dibiarkan dengan kondisi terikat, gajah ini malah bisa stres yang bisa berakibat fatal," kata Fadli. WWF sendiri dalam program relokasi gajah ini, menyarankan sebaiknya gajah ini di relokasi ke kawasan Hutan Lindung Libo atau sekitar 4 jam perjalanan dari lokasi penangkapan. Sebab, di kawasan HMS Balai Raja sebagai habitat awal kawanan gajah ini kondisinya tidak memungkinkan lagi untuk bisa bertahan hidup. Kawasan HMS Balai Raja sudah beralih fungsi jadi perkampungan dan perkebunan sawit. "Kalau mau jujur, sebenarnya gajah tidak pernah merusak kampung atau menyerang manusia, sepanjang habitatnya tidak dirusak. Tapi sayang, setiap ada konflik, gajah selalu saja dalam posisi yang dipersalahkan manusia," kata Fadli. (bal/)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads