Cerita Diran Hidup Bersama Gerobak di Beji Depok

Firda Cynthia Anggrainy Al Djokya - detikNews
Senin, 20 Sep 2021 00:02 WIB
Diran (60) hidup bersama gerobaknya demi mengais rezeki (Firda Cynthia Anggrainy Al Djokya/detikcom)
Foto: Diran (60) hidup bersama gerobaknya demi mengais rezeki (Firda Cynthia Anggrainy Al Djokya/detikcom)
Depok -

Diran (60) sehari-hari hidup bersama gerobak rongsoknya. Dari pukul 09.00 WIB hingga malam sekitar 19.00 WIB, ia berkeliling mengais rezeki dari hasil rongsokan yang ia kumpulkan.

"(Mencari rongsokan) ke sono aja, ke Ciganjur. Kadang ke Srengseng Sawah, ke Tanah baru. Nanti Isya pulang," kata Diran saat ditemui detikcom di Jalan Bungur Raya, Beji, Depok pada Minggu (19/9/2021).

Ditemui detikcom pada Minggu (19/9) sore, Diran tengah menyandarkan gerobaknya di Jalan Bungur Raya sambil beristirahat. Bajunya setengah basah karena kehujanan.

Tampak tumpukan kardus, botol plastik, dan kaleng di dalam gerobak kayunya. Namun, ia tak sendirian, melainkan ditemani sang istri dan cucu hidup bersama gerobak.

"Sama cucu ini. Sama si ibu (istri Diran) nungguin di gerobak," ujarnya.

Tiga tahun sudah Dinar rutin memarkirkan gerobak rongsoknya di jalan itu. Saat dirinya berkeliling mencari rongsok, sang istri dan cucu menetap di gerobak. Menunggu Dinar kembali dengan hasil rongsokannya.

"Gerobak di sini terus tiap hari. Saya jalan nyari botol plastik, kardus, sama kaleng-kaleng. Tapi kalau jalan mah kadang ibu enggak kuat jalan jauh, jadi nungguin gerobak di sini," kata Dinar.

Penghasilan Tak Menentu

Penghasilan Dinar tak pasti, bergantung dari berat karung yang ia panggul. Meskipun begitu, ia mengatakan bahwa sehari ia mendapatkan penghasilan sebesar Rp30-80 ribu.

"Ya tergantung, ini kan belom penuh ini (gerobak rongsok). Dari tadi saya juga dari jam 09.00 berangkat, baru segini. Paling 30-40 ribu ini. (Maksimal) palingan Rp70-80," ujarnya.

Namun, uang jerih payahnya baru bisa ia terima setiap minggu. Apabila sedang dalam keadaan tak punya uang, ia berutang kepada si bos.

"Ya kalau buat makan, nge-bon. Kadang-kadang nge-bon. Kadang (utang) Rp 100 ribu nanti dipotong (pendapatan). Kalau belum dapat penghasilan kita nge-bon dulu," katanya.

Selama ini, Dinar dan keluarga tinggal di Jalan Kelinci, Beji, Depok. Di sana, ia tinggal bersama anak-anak dan cucunya di bawah atap bangunan semi permanen.

"Ikut bos. Bos rongsok. Ada pengepulnya di situ ada gubuk, bedeng-bedeng. Ya seadanya lah itu muat bertiga," kata pria paruh baya itu.

Simak di halaman selanjutnya