Tanaman Kratom Jadi Kontroversi, Gubernur Kalbar Akan Surati Jokowi

Antara - detikNews
Minggu, 19 Sep 2021 22:00 WIB
Sebagian besar masyarakat Kapuas Hulu mengantungkan hidupnya dari tanaman kratom, terlebih saat pandemi COVID-19. Tak terkecuali bagi Yohanes yus Ady, warga Bika, Kapuas Hulu.
Tanaman Kratom (Foto: Rachman_punyaFOTO)
Pontianak -

Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji, bakal menyurati Presiden Joko Widodo terkait eksistensi tanaman Kratom yang jadi kontroversi. Bagi Sutarmidji, tanaman Kratom merupakan komoditas unggulan ekspor dari Kabupaten Kapuas Hulu.

"Kemarin saya sudah bilang ke Menteri Pertanian dan beliau akan bicara dengan presiden," ujar Sutarmidji dilansir dari Antara, Minggu (19/9/2021).

Sutarmidji sendiri sudah mengumpulkan sejumlah data soal tanaman Kratom. Surat ke Jokowi akan segera menyusul.

"Saya sudah mengumpulkan semua data, nanti saya akan menyurati beliau, beliau akan bilang nanti, mungkin dari DPR akan mem-backup ini," ucap Sutarmidji.

Terkait Kratom, Sutarmidji menyebut pihak Kantor Staf Presiden (KSP) sudah melakukan pembahasan mengenai tanaman Kratom. Sutarmidji menyebut tanaman Kratom sering kali dikaitkan dengan ganja, padahal efeknya berbeda.

"Mereka bilang kratom itu zat adiktifnya empat kali dibandingkan ganja, tetapi saya katakan bahwa orang yang mengonsumsi Kratom tidak berhalusinasi sedangkan mengonsumsi ganja pasti berhalusinasi, bahkan urine orang yang mengonsumsi Kratom belum tentu positif," tuturnya.

"Bayangkan pohon Kratom puluhan juta kalau ditebang, siapa yang mau bertanggung jawab. Betung Karibun dan Danau Sentarum sudah dijadikan paru-paru dunia oleh UNESCO. Di situ banyak Kratom, apa tidak gundul itu paru-paru dunia," jelasnya.

Sutarmidji mengatakan pihaknya mengedepankan negosiasi dengan pemerintah pusat agar tanaman Kratom ini tidak punah.

"Karena di Kalbar saja, petani yang kehidupannya bergantung dari Kratom ada 200 ribuan keluarga. Di Kapuas Hulu saja ada 115 ribu orang yang hidupnya bergantung dari kratom," ucapnya.

(isa/aik)