Survivor 9/11 Kini Sakit-sakitan
Sabtu, 08 Apr 2006 14:08 WIB
New York - Lolos dari musibah besar tidak menjamin kehidupan selanjutnya akan baik-baik saja. Mayoritas korban selamat tragedi 9/11 kini sakit-sakitan, fisik maupun psikis. Duh!Para survivor ini menderita penyakit yang berhubungan dengan pernafasan, depresi, gelisah, trauma, dan berbagai pemasalahan psikologis.Pasalnya mereka menyaksikan langsung paling tidak tiga hal yang tak terlupakan sehingga menyebabkan trauma, seperti runtuhnya menara kembar World Trade Center (WTC), korban tewas maupun luka, serta orang-orang yang berlompatan dari WTC.Demikian hasil riset US Centers for Disease Control and Prevention seperti dilansir AP, Sabtu (8/4/2006)."Mereka sering trauma, apalagi dulu mereka juga terperangkap debu dan reruntuhan WTC yang menyelimuti areal sekitarnya. Pengalaman itu berdampak pada kesehatan psikologis mereka," jelas salah satu peneliti Dr Robert M Brackbill.Dia telah menelusuri kondisi kesehatan lebih dari 71 ribu korban selamat tragedi Black September yang terjadi hampir 5 tahun silam pada 11 September 2001.Riset dilakukan dengan wawancara terhadap 8.418 orang yang terdaftar (registrasi) sebagai orang yang selamat dari runtuhnya menara kembar WTC.Riset yang berlangsung pada 5 September 2003 hingga 20 November 2004 ini tidak melibatkan analisa medis. Pengembangan riset akan dilakukan April tahun 2006 ini."Kami baru saja mulai mempelajari efek kesehatan dari hari terburuk sepanjang sejarah Kota New York. Penting sekali mengetahui apakah efek psikis dan mental terus berlanjut, atau berkurang, atau malah kian memburuk," kata Daniel Slippen, seorang korban selamat yang masuk registrasi.Brackbill yang juga pejabat Registrasi New York memprediksi, dibutuhkan 20 tahun atau lebih untuk memutuskan apakah ledakan 9/11 akan memicu tingkat kematian akibat kanker atau sakit lainnya di antara para korban selamat.Riset menunjukkan 6 dari 10 korban selamat mengalami terperangkap dalam awan debu dan puing reruntuhan WTC. Mereka tiga kali lipat mengalami masalah pernafasan, 40 persen mengalami masalah psikologis serius dan lima kali lipat menderita stroke.56 Persen para survivor mengeluhkan sinus, nafas pendek dan batuk permanen, 43 persen menderita luka fisik, paling banyak di bagian mata, 64 persen mengalami depresi, gelisah, dan masalah emosional, 11 persen dalam kondisi stres berat.
(sss/)











































