Sekjen KNPI: Mari, Boikot Majalah Playboy!
Sabtu, 08 Apr 2006 10:30 WIB
Jakarta - Terbit dan beredarnya majalah Playboy masih disikapi pro dan kontra. Sekretaris Jenderal (Sekjen) DPP Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Munawar Fuad juga turut berkomentar. Dia mengajak masyarakat untuk memboikot majalah yang memiliki ikon 'porno' itu. Pernyataan Munawar Fuad ini disampaikan dalam e-mailnya kepada detikcom, Sabtu (8/4/2006). Mantan aktivis GP Pemuda Ansor ini menilai beredarnya Playboy versi Indonesia mengancam moral bangsa. "Mari kita bersatu menolak dan tidak membelinya. Majalah adalah bagian dari penghancuran sistematis terhadap budi pekerti generasi muda. Karenanya, pemerintah harus bertanggung jawab sebagai regulator," kata Munawar.Dia juga menilai terbitnya Playboy tersebut menunjukkan longgarnya hukum, lemahnya pemerintah dan makin kuatnya industrialisasi dan komersialisasi seks yang makin mengancam terhadap punahnya generasi bangsa. "Apa pun yang mengarah dan mendekati segala bentuk pornografi dan pornoaksi harus dicegah sebelum tumbuh subur," ungkap dia. Kini saatnya, kata Munawar, generasi muda bersatu untuk menolak dengan tidak membeli majalah Playboy atau pun produk serupa. Pemerintah semestinya tidak sedikit pun memberi celah dan ruang bagi lahirnya majalah Playboy atas nama kebebasan pers atau pun demokrasi yang dampaknya nyata-nyata akan memperparah rusaknya moral bangsa.Edisi perdana Playboy terbit pada Jumat (7/4/2006). Majalah yang bercover model Andhara Early dan dijual dengan harga Rp 39.000 itu cukup laris. Namun, sejumlah pihak yang pro dengan majalah ini mengaku kecewa dengan majalah ini, karena foto-fotonya kurang berani, tidak ada beda dengan majalah-majalah sejenis lainnya. Sementara pihak yang sejak awal menolak, juga tetap menolak penerbitan majalah ini. Meneg Pemberdayaan Perempuan (Meneg PP) Meuthia Hatta termasuk pihak yang menolak keras penerbitan majalah ini. Ormas Islam, seperti NU dan Muhammadiyah juga menolak keras. Bahkan, massa Front Pembela Islam (FPI) sempat mendatangi kantor redaksi Playboy sebagai bentuk penolakannya.
(asy/)











































