Harga Elpiji Positif Naik Mei
Jumat, 07 Apr 2006 22:30 WIB
Jakarta - Pertamina akan menaikan harga elpiji mulai bulan Mei 2006. Namun Pertaminabelum menentukan berapa kenaikannya. Kenaikan harga elpiji itu untuk mengejar setoran dividen Rp 15,5 triliun.Namun perhitungan kisaran kenaikan antara Rp 500 hingga Rp 1000 per kilogram untuk rumah tangga dan kenaikan antara Rp 1250 hingga Rp 1500 per kilogram untukindustri dari harga selama ini RP 4250 per kilogram."Kenaikannya bulan depan, tapi tingkat kenaikan secara bertahap mencapai ke harga keekonomian," kata GM Gas Domestik PT Pertamina Hanung Budya saat konferensi pers di Kafe Pisa di Jakarta, Jumat (7/4/2006).Harga keekonomian untuk elpiji rumah tangga Rp 6900 per kilogram dan elpiji industri Rp 6700 karena tak menggunakan tabung. Harga saat ini Rp 4250 per kilogram sehingga setiap kilo elpiji menanggung kerugian sekitar Rp 2600 per kilogram.Ditargetkan harga Elpiji untuk industri mencapai tingkat keekonomiannya pada akhir tahun ini dan kenaikannya dilakukan secara bertahap selama dua kali dengan jangka waktu dua bulan sekali.Indusri diminta untuk memahami kenaikan ini karena naiknya biaya operasi dan pemasaran 23 persen dari tahun lalu. Selain itu sejak 19 Desember 2004 elpiji belum mengalami kenaikan.Harga pembelian elpiji untuk kebutuhan di dalam negeri selalu mengikuti perkembangan harga elpiji di pasar internasional yang di awal tahun 2006 masih menunjukkan tendensi yang masih tinggi yaitu harga LPG mix berdasar CP Aramco pada Januari 2006 adalah US$ 582/ton, Februari 2006 US$ 625.5/ton, Maret 2006 US$ 530/ton.Berdaarkan prediksi harga rata-rata bulanan perode tahun 2006 dari LPG Mix CP Aramco diperkirakan US$ 508,88/ton, naik 57,5 persen dari harga CP AramcoDesember 2004 US$ 323,06/ton. Selain itu nilai kurs dolar di bulan Maret 2006 juga masih tinggi yaitu Rp 9.250 naik 3,9 persen dari nilai kurs di bulan Desember Rp 8900."Kondisi ini menyebabkan Pertamina pada tahun 2006 mengalami kerugian dalam menjalankan bisnis elpiji sekitar Rp 2 triliun," ujarnya."Penyesuaian harga elpiji harus dilakukan karena adanya kewajiban Pertamina di 2006 dalam APBN 2006 untuk menyetorkan dividen ke pemerintah sebesar Rp 15,5 triliun," jelasnya.Dengan kenaikan secara bertahap maka untuk tahun 2006 besar kerugian berkurang menjadi Rp 1,22 triliun. Selama ini produksi Elpiji Pertamina 82 persen membeli di KPS/lokal 15-16 persen sedangkan impor hanya 2 persen.Dari total kebutuhan elpiji sebanyak 1.000.0080 ton, 85 persen untuk rumahtangga dan 15 persen untuk industri terutama untuk pabrik keramik dan kaca.
(mar/)











































