HUT ke-76 PMI, Sudirman Said Kenang Sosok Teladan Bung Hatta

Tim detikcom - detikNews
Sabtu, 18 Sep 2021 11:11 WIB
Sudirman Said
Sudirman Said (Foto: dok. Istimewa)

Meski Bung Hatta telah wafat, Sudirman yakin bahwa sang pendiri PMI itu tetap banjir pahala dan kebaikan.

Dalam kegiatan itu hadir juga Putri Bung Hatta, Meutia Farida Hatta Swasono. Dia menceritakan bagaimana peran ayahnya dalam mendirikan PMI kala itu.

"Tanggal 17 September 1945, hanya satu bulan sesudah Indonesia merdeka, PMI dibentuk. Itu berkat kesadaran pemimpin nasional, dan Wakil Presiden Mohammad Hatta sendiri yang menyatakan kesediaannya untuk menjadi Ketua Palang Merah Indonesia. Khususnya Bung Hatta sadar bahwa Indonesia harus segera berperan internasional, seperti umumnya peranan Palang Merah/ the Red Cross," ucapnya.

"Wakil Presiden harus menjadi Ketua PMI menghadapi dunia internasional. Arti lainnya adalah bahwa PMI tidak hanya mengurusi masalah kemanusiaan saja, melainkan juga PMI otomatis harus mengurusi tawanan perang, baik tawanan perang Jepang maupun tawanan perang Belanda yang harus dipulangkan ke negara mereka masing-masing," tambah Muetia.

Hal ini membutuhkan peranan seorang Wakil Presiden untuk berdialog dan menetapkan kesepakatan, mengingat Indonesia masih sangat muda. Diperlukan pemimpin pucuk dari negara untuk menanganinya dengan pihak internasional.

"Demikianlah Bung Hatta secara taktis dan strategis melalui PMI melibatkan Indonesia dalam international affairs, dan itu berhasil, sehingga Indonesia sebagai negara yang masih sangat muda, secara nyata sudah memegang peranan internasional," lanjutnya.

Kemudian sesudah aktivitas yang berkaitan dengan PMI Internasional itu dilakukan, Bung Hatta lantas menyerahkan jabatan ketua kepada Buntaran. Selesailah tugas Bung Hatta saat itu.

"Beliau kemudian menyerahkan jabatan Ketua PMI kepada dr. Buntaran yang memang merupakan seorang dokter, sehingga tepat untuk menjabat sebagai Ketua PMI," ungkap Muetia.

Sejak saat itu, faktor kesehatan dan sosial-budaya serta perlindungan kepada rakyat Indonesia menjadi pertimbangan utama dari kegiatan PMI. Apalagi Indonesia masih menghadapi tantangan untuk mempertahankan kemerdekaannya, yang terwujud dalam perang kemerdekaan.

Muetia menuturkan, di masa pandemi peranan PMI bertambah. Pandemi telah memberikan nuansa dan pengalaman besar kepada PMI untuk bergerak maju sesuai kebutuhan darurat bagi rakyat Indonesia.

"Kebutuhan transfusi plasma darah konvalesen dari penyintas COVID-19 untuk korban baru menjadi kesadaran baru bagi insan kesehatan dan masyarakat awam. Meski belum semua berhasil, menurut Prof Meutia, dari pengalaman yang sudah diperoleh, para ahli akan makin giat dan serius untuk mencari jalan untuk peningkatan keberhasilan menyembuhkan penderita COVID-19 yang baru, sampai nanti pandemi berakhir. Walaupun mungkin tidak berarti sudah lenyap, kewaspadaan masih tetap harus dipegang dan berbagai strategi mengatasi pandemi tetap harus ditingkatkan," ujarnya.


(eva/jbr)