Mirip Cerita Proyek Kapal Selam Australia, Ini Kisah Kereta Cepat RI

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 17 Sep 2021 11:05 WIB
Pembangunan terowongan kereta cepat Jakarta-Bandung
Foto: Pembangunan terowongan kereta cepat Jakarta-Bandung (Dok. PT KCIC)
Jakarta -

Prancis merasa ditikam dari belakang oleh Australia setelah negeri kanguru itu justru membeli kapal selam nuklir dari Amerika Serikat. Cerita ini mirip seperti ketika Indonesia memilih kereta cepat China ketimbang Jepang.

Sebagaimana diketahui, cerita soal proyek kereta cepat sudah direncanakan sejak 2014. Awalnya, pemerintah ingin membangun kereta semi cepat Jakarta-Surabaya dengan waktu tempuh 5,5 jam dengan kecepatan 160 km/jam. Namun, pada akhirnya pemerintah memutuskan untuk membangun dengan rute Jakarta-Bandung terlebih dahulu sepanjang 150 km yang nilai awal proyeknya senilai Rp 67 triliun.

Selanjutnya, Jepang menawarkan proposal terkait proyek kereta cepat ini. Utusan Jepang Izumi Hiroto membawa proposal usai revisi kedua ke Jakarta pada 26 Agustus 2015. Tidak lama setelahnya, China mengirimkan proposalnya juga.

Jepang menawarkan pinjaman proyek dengan masa waktu 40 tahun berbunga hanya 0,1% per tahun dengan masa tenggang 10 tahun, padahal sebelumnya bunga yang ditawarkan Jepang sampai 0,5% per tahun. Usulan terbaru juga menawarkan jaminan pembiayaan dari pemerintah Jepang dan meningkatkan tingkat komponen produk dalam negeri Indonesia.

Sementara itu, proposal penawaran China menawarkan pinjaman dengan bunga lebih tinggi namun jangka waktu lebih panjang. China menawarkan proposal terbaiknya dan menawarkan pinjaman sebesar US$ 5,5 miliar dengan jangka waktu 50 tahun dan tingkat bunga 2% per tahun.

Indonesia kemudian menunjuk Boston Consulting Group untuk mengevaluasi penawaran dari kedua negara tersebut dan segera mengumumkan pemenangnya.

Akhirnya pemerintah memilih China untuk menggarap proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Salah satu alasannya lantaran pihak Jepang tidak mau jika tidak ada jaminan dari pemerintah, sementara China siap menggarap dengan skema business to business tanpa ada jaminan dari pemerintah.

Dipilihnya China untuk proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung pun sempat menuai kritik dari komikus Jepang, Onan Hiroshi yang ramai dibicarakan warganet pada 2018. Lewat gambarnya, Hiroshi menceritakan bagaimana awal dari rencana pembangunan kereta cepat tersebut dibangun oleh Jepang. Pihak Jepang sudah melakukan studi terkait rencana pembangunan mega proyek tersebut.

Hasil studi Jepang kemudian diserahkan ke Indonesia. Akan tetapi, data tersebut justru diberikan kepada China yang kemudian diberikan wewenang membangun proyek kereta cepat yang menghubungkan Jakarta-Bandung. Dalam komik tersebut juga digambarkan bahwa pihak China dipilih karena menawarkan proyek dengan nilai yang jauh lebih murah dibandingkan Jepang.

Namun, dua tahun berselang mega proyek ini tak kunjung menunjukan perkembangan yang berarti. Hiroshi menggambarkan Jokowi merayu Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe untuk membantu kelangsungan proyek tersebut lagi.

Bukan hanya itu, proyek Kereta Cepat Jakarta Bandung juga disorot karena kebakaran pipa di Tol Padalarang di 2019 lalu. Kala itu, Pertamina menyatakan telah meminta kontraktor proyek KCIC berkoordinasi jika melakukan konstruksi di kawasan tersebut.

Belakangan, biaya proyek ini disebut bengkak. Saat ini, kelebihan biaya tersebut sedang dihitung KCIC. Sementara, berdasarkan informasi yang diterima Direktur Utama PT Wijaya Karya (Persero) Tbk atau WIKA Agung Budi Waskito, proyek ini bengkak sekitar 20%.

Simak Video: Setop Sebut Rumah Kami Kampung Janda

[Gambas:Video 20detik]