Mirip Cerita Proyek Kapal Selam Australia, Ini Kisah Kereta Cepat RI

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 17 Sep 2021 11:05 WIB
Pembangunan terowongan kereta cepat Jakarta-Bandung
Foto: Pembangunan terowongan kereta cepat Jakarta-Bandung (Dok. PT KCIC)

Prancis Merasa Ditikam Australia

Cerita Jepang yang tiba-tiba ditikung oleh China di proyek kereta cepat RI ini mirip seperti Prancis yang ditikung AS di pembelian kapal selam Australia.

Menteri Luar Negeri (Menlu) Prancis Jean-Yves Le Drian mengungkapkan kemarahannya atas keputusan mengejutkan Australia untuk membatalkan kesepakatan kapal selam demi kapal selam bertenaga nuklir dari AS itu.

"Ini benar-benar menikam dari belakang. Kita telah menjalin hubungan kepercayaan dengan Australia, kepercayaan ini telah dikhianati," ujar Jean-Yves Le Drian kepada radio France Info.

"Saya sangat marah hari ini, dan kecewa ... Ini bukan sesuatu yang dilakukan sekutu satu sama lain," cetusnya seperti diberitakan AFP.

Presiden AS Joe Biden pada Rabu (15/9) waktu setempat mengumumkan pakta pertahanan baru dengan Australia dan Inggris, yang akan membuat Canberra mendapatkan armada kapal selam bertenaga nuklir, hak istimewa yang disediakan untuk beberapa sekutu Amerika.

Langkah ini menggarisbawahi meningkatnya kekhawatiran akan pengaruh China yang berkembang di kawasan Indo-Pasifik, di mana Prancis juga ingin melindungi kepentingannya yang mencakup wilayah luar negeri Kaledonia Baru.

Dengan kesepakatan tersebut berarti Australia membatalkan perjanjian pembelian kapal selam rancangan Prancis. Seperti diberitakan BBC, Kamis (16/9/2021), pada 2016 lalu, Prancis memenangkan kontrak pembuatan 12 kapal selam untuk Angkatan Laut Australia sebesar A$50 miliar (Rp 522 triliun). Namun, proyek tersebut mengalami penundaan karena Australia mengajukan syarat agar pembuatan kapal selam itu menggunakan banyak komponen dalam negeri.

Menteri Pertahanan Australia Peter Dutton mengatakan bahwa kapal selam nuklir yang didukung Amerika Serikat merupakan pilihan yang lebih baik.

"Pada akhirnya keputusan yang kami buat didasarkan pada kepentingan terbaik keamanan nasional kami," kata Dutton dalam konferensi pers bersama di Washington, AS.

Simak Video: Setop Sebut Rumah Kami Kampung Janda

[Gambas:Video 20detik]




(rdp/tor)