Kontemplasi Qalbu (5)

Hambatan Menjadi Manusia Efektif

Prof. Nasaruddin Umar - detikNews
Jumat, 17 Sep 2021 04:59 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Jakarta -

Jika problem dan tantangan sudah dapat dikenali dan diidentifikasi, maka sebaiknya kita memahami juga hambatan-hambatan untuk menjadi manusia efekti. Di antara hambatan itu ialah adanya kecenderungan untuk selalu meragukan diri sendiri. Bukanlah manusia bijaksana jika selalu meragukan, apalagi menyalahkan dirinya sendiri. Agama menganjurkan kita selalu percaya diri setelah kita melakukan optimalisasi usaha. Dalam ayat Al-Qur'an ditegaskan: "Maka apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya" (Q.S. Ali 'Imran/3:159).

Hambatan lainnya ialah selalu menyalahkan keadaan atau orang lain. Orang yang selalu menyalahkan keadaan atau orang lain menurut Muhammad Iqbal, seorang pemikir Pakistan, tidak bias disebut pembaharu. Pembaharu sejati menurut Muhammad Iqbal orang tidak pernah menyalahkan keadaan, orang lain, dan dirinya sendiri. Paling gampang memang menyalahkan keadaan atau orang lain manakala terjadi persoalan, tetapi sikap seperti ini tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Bahkan sikap ini selalu akan menjadi hambatan menjadi manusia efektif. Banyak ayat dan hadis serta kearifan local mencela sikap seperti ini.

Sikap lain yang menghambat untuk menjadi manusia efektif ialah bekerja tanpa niat yang jelas dan tanpa tujuan yang jelas. Orang seperti ini bukan hanya akan tersesat di akhirat tetapi di dalam dunia nyata ini pun akan selalu tersesat dan kebingungan. Karena itu, kejelasan makna hidup dan niat harus jelas bagi setiap orang yang menghendaki prestasi dan kepuasan. Banyak dalil yang mendukung sikap ini (lihat kembali artikel terdahulu, sesi niat).

Hambatan lainnya ialah kecenderungan seseorang untuk menunda-nunda pekerjaan penting. Sebuah pekerjaan seharusnya sudah dapat dituntaskan pada hari itu juga tetapi ditundanya ke hari-hari berikutnya, akibatnya pekerjaan makin menumpuk. Sungguhpun pada akhirnya dikerjakan semuanya namun kesan tergesa-gesa dan improfisasi umumnya tak terhindarkan. Dalam Al-Qur'an ditegaskan: Fa idza faragta fan shab (Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain). (Q.S. al-Insyirah/94:7). Banyak lagi ayat dan hadis mengingatkan kita agar hidup disiplin dan menghargai waktu.

Hambatan lainnya ialah takut terhadap perubahan. Seakan-akan setiap perubahan akan mengorbankan dirinya sendiri. Padahal, jika dipersiapkan dengan baik maka perubahan itu akan memberikan keuntungan yang besar. Konsep hijrah yang diperkenalkan Nabi Muhammad Saw sesungguhnya tidak lain adalah perubahan kea rah yang lebih baik. Jadi tidak perlu takut atau memusuhi perubahan. Sebaliknya jadikanlah perubahan itu sebagai sebuah tantangan yang akan memberikan banyak nilai tambah buat kita.

Hambatan berikutnya ialah kebiasaan untuk menunda melakukan perbaikan-perbaikan. Waktu selalu dibiarkan berlalu tanpa memperbaiki apa yang seharusnya diperbaiki di dalam diri dan lingkungannya. Umur manusia tidak ada yang bias memprediksi. Jika keburukan di dalam diri kita belum sempat diperbaiki, lalu ajar menjemput, maka sudah barang tentu akan mengakibatkan penyesalan lebih mendalam di hari kemudian. Tidak ada ruginya untuk segera memperbaiki keadaan diri sendiri atau lingkungan kerja kita, terutama yang berada di dalam jangkauan dan kewenangan kita. Ini ditegaskan di dalam Al-Qir'an: Berlomba-lombalah di dalam melakukan kebaikan dan ketakwaan, dan jangan berlomba-lomba melakukan pembiaran terhadap dosa dan permusuhan.

Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal, Jakarta

Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. (Terimakasih - Redaksi)

(erd/erd)