Kolom Hikmah

Manusia

Aunur Rofiq - detikNews
Jumat, 17 Sep 2021 07:14 WIB
Aunur Rofiq
Foto: Ilustrasi: Zaki Alfaraby/detikcom
Jakarta -

Allah menciptakan makhluk-makhluk-Nya dengan sempurna. Manusia merupakan makhluk ciptaan-Nya yang paling sempurna dan istimewa. Setelah manusia tercipta, maka Allah memerintahkan malaikat dan jin untuk sujud pada Adam as.

Allah berfirman, "Dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada para malaikat, "Sujudlah kamu kepada Adam!" Maka mereka pun sujud kecuali Iblis. Ia menolak dan menyombongkan diri, dan ia termasuk golongan yang kafir." ( QS. al-Baqarah [2] : 34 ).

Sujud pada Nabi Adam as. bukanlah perintah untuk menyembah, namun merupakan rasa hormat terhadap makhluk ciptaan Allah yang baru.

Adapun peran manusia pada hakikatnya ada dua :

1. Sebagai hamba seperti dalam firman-Nya, " Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. adz-Dzariyat [51] : 56 ). Dalam ayat ini mengandung makna bahwa semua makhluk Allah, termasuk jin dan manusia diciptakan oleh Allah SWT agar mereka mau mengabdikan diri, taat, tunduk, serta menyembah hanya kepada Allah SWT.

2. Sebagai wakil penguasa bumi. Pemimpin dan pengatur alam untuk kepentingan sekitarnya (komunitasnya) beserta makhluk-makhluk hidup lainnya. Firman Allah sebelum menciptakan Nabi Adam as. pada para Malaikat, "Sesungguhnya Aku (Allah) hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi." ( QS. al-Baqarah [2] : 30 ). Karena predikatnya sebagai khalifah, pemimpin, maka Allah memberi karunia beberapa keistimewaan. Keistimewaan bentuk fisik, organ tubuh, kemampuan, nafsu, akal dan hati nurani untuk berpikir dan merasa.

Peran sebagai hamba, adalah tunduk dan beribadah kepada-Nya. Artinya patuh atas semua perintah dan larangan-Nya, karena manusia ( hamba ) yang diciptakan oleh-Nya. Dalam hal ini penulis akan membedakan antara hamba dan penyembah.

1. Penghambaan bersifat permanen, karena sebagai hamba dan hubungannya dengan Sang Pencipta tiada pilihan lain hanya tunduk dan sujud sepenuhnya. Di sisi lain, penyembahan tidak bersifat permanen.

2. Seorang hamba yang tunduk dan sujud pada Tuhanya kapanpun tidak mempunyai hak memilih waktu. Sedangkan penyembah memiliki waktu-waktu tertentu untuk dipanggil menyembah.

Menjadi hamba harus dipahami dengan mendalam, bahwa manusia mempunyai pilihan apakah memilih menjadi hamba Allah atau menjadi hamba selain-Nya. Menghamba pada makhluk, kebendaan, posisi tertentu, ego, keluarga dan lain-lain, merupakan tindakan pengingkaran pada Sang Pencipta. Berserah diri atas penghambaan akan mengubah sudut pandang tentang kehidupan, yang selalu termotivasi untuk menjalani sesuai nilai-nilai yang terkandung dalam Al-Qur'an dan sunah Rasulullah. Bukan menjalani kehidupan sesuai nilai-nilai kemanusiaan yang senantiasa berubah sesuai dengan perintah nafsu.

Selalu dekat karena sering berhubungan dengan Sang Pencipta untuk mencari ridha-Nya dalam setiap keputusan yang kecil maupun yang besar (memilih pasangan hidup, memilih tempat tinggal, memilih jalan hidup sebagai pemimpin bisnis atau pemimpin suatu negara dan sebaginya). Oleh karena itu, menerima peran sebagai hamba Allah menjadi penting untuk menjadi anggota penduduk yang unggul.

Adapun peran sebagai wakil penguasa bumi, merupakan kewajiban manusia dalam menjaga kesinambungan, melakukan kreasi untuk pengembangan. Peran ini memerlukan keaktifan manusia dalam mencari bekal ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat menjalankan fungsinya. Jika kita dalami kisah penggembalaan Rasulullah ketika masih remaja, seakan miniatur peran manusia sebagai wakil penguasa bumi. Penggembala tidak hanya melindungi kawanan binatang gembalaannya, namun juga memelihara, mengembangbiakan, mencari tempat makan yang baru. Memperhatikan binatang yang sakit, memastikan binatang yang muda mendapat perhatian khusus.

Peran ini sangat aktif, yang intinya tidak hanya menjaga bumi sebagaimana adanya, namun bertanggung jawab untuk tumbuh kembangkan. Ini sesuai dengan hadis dibawah ini yang diriwayatkan oleh Bukhari. Rasulullah bersabda, " Setiap diri kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang kepala negara adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban perihal rakyat yang dipimpinnya; Seorang suami adalah pemimpin bagi keluarganya dan ia bertanggung jawab atasnya; Seorang istri adalah pemimpin dalam rumah suaminya dan bagi anak-anaknya, ia bertanggung jawab atas mereka; Seorang pembantu adalah pemimpin bagi harta benda tuannya dan bertanggung jawab atasnya; Jadi setiap kalian adalah seorang pemimpin dan bertanggung jawab atas apa yang dipimpinnya."

Islam datang dengan nilai-nilai dan pedoman yang tidak dipaksakan dari luar, namun melalui dorongan dari dalam diri dengan kepasrahan atas perintah Allah dan petunjuk Rasulullah. Hidup dengan nilai-nilai tersebut akan tampak sikap amanah ( dapat dipercaya ), shidiq ( jujur ) dan ikhsan ( keunggulan ). Semoga kita menjadi hamba dan wakil penguasa bumi dengan menerapkan nilai-nilai tersebut menuju kehidupan yang bermakna.

Aunur Rofiq

Sekretaris Majelis Pakar DPP PPP 2020-2025

Ketua Dewan Pembina HIPSI ( Himpunan Pengusaha Santri Indonesia )

*Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Seluruh isi artikel menjadi tanggungjawab penulis. --Terimakasih (Redaksi)

(erd/erd)