Playboy Tidak Terbit Telanjang, Menneg PP Tetap Tak Setuju
Jumat, 07 Apr 2006 12:25 WIB
Jakarta -
Majalah Playboy identik dengan nudis alias ketelanjangan. Meski penerbitan perdana Playboy Indonesia tidak menonjolkan ketelanjangan, tetap saja tidak mendapat simpati dari Menteri Negara Pemberdayaan Perempuan (Menneg PP) Meutia Farida Hatta."Saya memang belum melihat dan membaca Playboy Indonesia. Tadinya gambaran saya seperti Playboy di luar negeri. Tapi dari namanya saja yang Playboy itu, asumsi masyarakat tetap majalah yang berbau ketelanjangan," ujar putri proklamator Bung Hatta kepada detikcom, Jumat (7/4/2006).Nama Playboy, menurut Meutia, tetap mengusik perasaan masyarakat. Ke depannya, ia khawatir bila pemerintah akan dijadikan kambing hitam adanya pornografi dan pornoaksi, karena tidak melarang kehadiran Playboy yang identik dengan bikini dan perempuan tanpa busana."Kalau yang seperti itu berarti ada eksploitasi terhadap perempuan. Masyarakat kita belum bisa melihat yang telanjang-telanjang itu sebagai seni. Takutnya nanti ada yang terobsesi sehingga muncul kejahatan seksual," imbuh Meutia.Meutia juga menuturkan, karena dipasarkan untuk menjaring kalangan khusus, maka Playboy akan selalu diupayakan untuk memenuhi keinginan dan kepentingan kalangan tertentu saja. Hal ini dilakukan manajemen Playboy untuk menjaga kelangsungan hidup majalah berlogo kelinci bertuxedo itu."Sekarang ini baru terbit satu, tidak telanjang. Apakah selanjutnya akan begitu terus? Tapi kalau lantas memisah-misah masyarakat dengan eksklusivitas semacam itu, sayang sekali. Majalah seperti ini saya rasa tidak begitu perlu," cetus istri ekonom Sri Edi Swasono ini.Edisi perdana Playboy Indonesia pada 7 April ini memang terbit dengan format yang jauh dari bayangan. Jangan harap bisa melihat orang berpose tanpa busana seperti yang biasa dijumpai di majalah Playboy edisi luar negeri. Halaman sampulnya saja hanya menampilkan perempuan ukuran pas foto.
(nvt/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































