Dukung Jokowi, Ketua Komisi X Minta Aktivitas Dakwah Mahasiswa Dipantau

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 15 Sep 2021 10:04 WIB
Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda.
Ketua Komisi X DPR Syaiful Huda. (detikcom)
Jakarta -

Presiden Joko Widodo (Jokowi) mewanti-wanti pimpinan kampus mengawasi aktivitas mahasiswa agar tidak menjadi radikalis. Komisi X DPR menyebut peringatan Jokowi masuk akal dan ancaman radikalis nyata.

"Saya menilai apa yang disampaikan Presiden Jokowi di hadapan forum rektor masih menemukan relevansinya karena ancaman penyebaran paham radikal di kalangan mahasiswa memang ada buktinya. Kami berharap warning tersebut benar-benar menjadi atensi para rektor dan sivitas akademika di masing-masing perguruan tinggi," ujar Ketua Komisi X Syaiful Huda, Rabu (15/9/2021).

Huda menyebut indikasi adanya penyebaran paham radikal di kampus bisa dilihat dari jajak pendapat yang dilakukan oleh beberapa lembaga, seperti BNPT, Alvara Research, hingga Setara. Selain itu, muncul kasus-kasus intoleran dan bernuansa SARA di beberapa kampus di Tanah Air.

"Indikasi-indikasi tersebut menunjukkan jika ancaman pemikiran dan sikap radikal di kampus itu benar dan nyata adanya. Oleh karena itu, pimpinan kampus dan jajarannya tidak bisa lepas tangan atas fenomena ini," katanya.

Huda mengatakan paham dan pemikiran radikal ini biasanya disampaikan melalui diskusi berbalut dakwah di masjid-masjid kampus. Selain itu, senior-senior kampus yang terpapar paham radikalis jeli memilih calon kader dari kalangan mahasiswa baru.

"Biasanya mahasiswa baru ini masih mencari jati diri dengan semangat keberagamaan yang sehingga mudah dipengaruhi. Pihak rektorat harus benar-benar memperhatikan lebih kepada aktivitas dakwah kampus baik yang dilakukan di lingkungan masjid kampus maupun diskusi-diskusi keagamaan kecil yang dilakukan mahasiswa," katanya.

Simak video 'Jokowi Minta Rektor Hati-hati, Ada yang Didik Mahasiswa Jadi Ekstremis':

[Gambas:Video 20detik]

Indikasi adanya pemikiran radikal di kalangan mahasiswa, lanjut Huda, bisa dilihat juga dari pola pikir, perilaku, hingga gaya hidup mahasiswa. Jika mahasiswa tiba-tiba tidak mau beribadah dengan kawan sebaya, menutup diri, mengkafirkan orang yang tidak sepaham, tidak mau mengakui negara, bahkan nekat meninggalkan perkuliahan untuk paham tersebut, bisa jadi telah terpapar pemikiran radikal.

"Di sini pentingnya kampus mengembangkan sistem early warning yang bisa berbasis teman sebaya. Di mana nanti antar-teman bisa saling mengawasi dan saling mengingatkan jika ada perubahan perilaku secara tiba-tiba di antara mereka," katanya.

Indikasi pemikiran radikal di kalangan mahasiswa...