Kimia Farma Pastikan Eks Pegawai yang Ditangkap Densus Tak Punya Akses CSR

Tim detikcom - detikNews
Selasa, 14 Sep 2021 13:25 WIB
Munculnya pilihan vaksin COVID-19 berbayar menuai kontroversi di kalangan masyarakat. PT Kimia Farma TBK pun kemudian menunda pelaksanaan vaksinasi berbayar.
Ilustrasi Kimia Farma (Foto: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto)
Jakarta -

PT Kimia Farma Tbk memecat pegawainya, S, yang ditangkap Densus 88 karena terlibat terorisme. Kimia Farma memastikan S tak punya akses menggunakan dana CSR.

"Saya ingin mengklarifikasi berita yang beredar di sosial media yang mengaitkan bahwa karyawan tersebut menduduki posisi strategis memiliki akses terhadap penggunaan dana CSR dan dapat mempengaruhi penggalangan dana, saya katakan itu tidak benar," ujar Direktur Umum & Human Capital PT Kimia Farma, Dharma Syahputra, kepada wartawan, Selasa (14/9/2021).

Dharma memastikan S tidak memiliki jabatan strategis. S, kata Dharma, hanya berposisi sebagai operator.

"(S) pelaksana operator, jadi posisi layer kalau di kita itu paling rendah (jabatan)," kata Dharma.

Dharma menegaskan sekali lagi bahwa S tidak memiliki akses dana CSR.

"Kemudian akses terhadap CSR tidak benar karena program CSR kita dilakukan secara terpusat di sini, keputusan terhadap alokasi CSR itu pasti melalui tahapan check dan re-check dan saya putuskan secara terpusat dan kita juga prosesnya itu kita lakukan klarifikasi, termasuk klarifikasi ke lapangan," terangnya.

Dharma menambahkan pihaknya sudah melakukan skrining terhadap rekan-rekan kerja S. Hasilnya, Kimia Farma tak menemukan adanya indikasi kegiatan terorisme.

"Tidak ada kegiatan yang terkait itu (terorisme), di dalam (Kimia Farma) yang kita ketahui seluruh indikasi yang disampaikan oleh dari Densus 88 itu kaitannya dengan kegiatan di luar kantor," lanjutnya.

S Dipecat Kimia Farma

PT Kimia Farma Tbk pun mengambil tindakan tegas terhadap S yang terlibat terorisme. S langsung dipecat.

"Clear, kita sidang, kita memutuskan untuk kita pecat, yang bersangkutan juga sudah kita berhentikan," ujar Dharma.

Dharma menyebut terorisme dan radikalisme merupakan hal yang sangat serius. Hal itu bertentangan dengan pengembangan karakter pegawai PT Kimia Farma Tbk.

(isa/fjp)