Ketua DPD Minta BPOM Bikin Kebijakan Khusus agar Jamu Punya Legalitas

Khoirul Anam - detikNews
Jumat, 10 Sep 2021 17:58 WIB
DPD RI
Foto: dok. DPD RI
Jakarta -

Ketua DPD RI, AA LaNyalla Mahmud Mattalitti berharap BPOM dapat melakukan sejumlah upaya agar jamu berkembang. Salah satunya membuat kebijakan atau aturan khusus karena jamu kurang memiliki bukti empiris soal keamanannya jadi produk konsumsi.

"Pandemi membuka peluang pasar yang cukup besar bagi tanaman obat dan ramuan jamu tradisional. Kita harus memanfaatkan momentum tersebut, di mana saat ini back to nature sedang tren di masyarakat," kata LaNyalla dalam keterangan tertulis, Jumat (10/9/2021).

Berdasarkan data riset Kementerian Kesehatan pada 2017 terdapat 32.000 ramuan obat tradisional dan 2.848 jenis tanaman yang teridentifikasi sebagai bahan obat tradisional.

Diketahui, fakta khasiat obat dan jamu tradisional terkadang sulit dilakukan uji klinis. Ramuan itu biasanya dibuat secara turun-temurun, bahkan menggunakan teknik-teknik yang tidak biasa dan tidak dapat dilakukan oleh setiap orang.

Oleh karena itu, banyak ramuan jamu tradisional hanya dapat dibuat orang tertentu dan tidak dapat diproduksi secara massal. Hal inilah yang membuat sulitnya mendapatkan data empiris, apalagi dilakukan uji klinis.

"Ramuan tradisional masuk pada kategori ramuan kuno tentu saja sulit bagi BPOM mengeluarkan izin edar. Karena ini merupakan kekayaan budaya dan keragaman hayati kita berharap BPOM memberi kebijakan dengan klausul tersendiri, dan tidak menggunakan aturan yang umum seperti untuk produksi obat-obatan massal lainnya," papar Senator asal Jawa Timur itu.

Selain itu, LaNyalla juga mendorong agar BPOM mengumpulkan dokumentasi atau pembuktian empiris terhadap ramuan atau obat tradisional. Jadi, kata dia, BPOM tidak terkendala jika ada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang mendaftarkan produknya dengan klaim tertentu.

LaNyalla memaparkan, setiap wilayah di Indonesia memiliki kekhasan yang sangat kental. Sebagai contoh, di Pulau Jawa dikenal ramuan jamu dari rempah-rempah, seperti jahe, temulawak, sambiloto, kunyit, dan lainnya. Sementara di bagian tengah, seperti Bali, dikenal minyak aromaterapi, minyak balur, lulur tradisional, boreh borehan, dan sebagainya.

"Untuk Indonesia bagian timur, bahan alam yang dimanfaatkan oleh masyarakatnya adalah rumput laut, juga tanaman asli Papua yang terkenal seperti buah merah, sarang semut, dan juga kayu akway," katanya.

Dengan potensi besar itu, ia menambahkan, industri obat tradisional, khususnya yang dikelola UMKM, layak diberi kesempatan dan difasilitasi untuk berkembang.

"Selain mengembangkan budaya Indonesia dari tradisional ke internasional, UMKM jamu atau obat tradisional ini juga ikut mewujudkan kesehatan bangsa," jelasnya.

LaNyalla juga berharap agar BPOM lebih sering melakukan sosialisasi tentang standar dan faktor yang harus dipenuhi UMKM terkait produksi obat tradisional.

"BPOM perlu juga memberikan solusi yang langsung menyelesaikan kendala dari para UMKM, sehingga produksinya sesuai koridor ketentuan yang berlaku," tutupnya.

(prf/ega)