Anggota DPR Beberkan Jaringan Pendukung Separatis di Papua

Anggota DPR Beberkan Jaringan Pendukung Separatis di Papua

- detikNews
Kamis, 06 Apr 2006 08:18 WIB
Jakarta - Beberapa anggota DPR yang berencana menemui parlemen Australia membeberkan jaringan yang memberikan dukungan terhadap gerakan separatis di Papua. Jaringan tersebut melibatkan LSM, anggota parlemen, gereja serta beberapa universitas di Australia. Sebuah LSM lokal Indonesia pun dianggap turut berperan."Kami terpaksa harus memberikan data seperti ini. Agar semua sadar bahwa ancaman nyata separatis sudah di depan mata," ujar anggota Komisi I DPR dari FPDIP Effendi MS Simbolon saat dihubungi detikcom, Kamis (6/4/2006).Dalam bagan mengenai jaringan pendukung separatis Papua di Australia, diungkapkan pada tanggal 25 Oktober 2000, Direktur Lembaga Study dan Advokasi Hak Asasi Manusia (ELSHAM) Papua, John Rumbiak menandatangani MoU dengan Greg Sword.Inti dari MoU tersebut adalah dukungan bagi setiap aktivitas gerakan separatis Papua. Greg merupakan anggota parlemen tingkat negara bagian Melbourne dari Partai Buruh. Selanjutnya, sejak tahun 2000, Ketua Partai Hijau Australia Bob Brown aktif memotori terbentuknya Parliamentary Group on West Papua.Pada tahun 2003, Bob yang juga seorang senator mengkampanyekan masuknya beberapa submisi kepada parlemen Australia. Tema yang diangkat adalah pelurusan sejarah Irian Jaya dan penentuan nasib sendiri bagi rakyat Irian Jaya.Selain itu, disebut juga nama Senator Kerry Nettle, anggota parlemen dari Partai Hijau. Dia turut memperjuangkan suaka politik bagi 42 warga Papua. Bahkan, pada 2 April lalu Nettle mendapatkan penghargaan "Mahkota Papua" dari kelompok pro-separatis di Sydney.Dari Partai Demokrat Australia, disebut Senator Andrew Barlet yang mendukung kampanye penentuan nasib (self determination) bagi rakyat Irian Jaya. Barlet juga pernah mengirimkan surat kepada Sekjen PBB untuk meninjau kembali keabsahan PEPERA 1969.Parliamentary Group on West Papua yang dimotori oleh Bob Brown juga didukung oleh organisasi internasional seperti Asia Pacific Human Rights Network (APHRN), West Papua Action Australia (WPA-A), Action in Solidarity With East Timor (ASIET), Australian Council for Overseas Aid (ACFOA), East Timor Action Network (ETAN) dan The Centre for People and Conflict Studies The Unversity of Sydney.Lembaga yang terakhir disebut memiliki proyek yang disebut West Papua Project (WPP) dan dipimpin oleh Prof Stuart Rees. Seorang peneliti dan penulis tentang Indonesia Prof Denis Leith juga turut memberikan dukungan terhadap pro kemerdekaan Papua dengan cara membantu penggalangan dana bagi WPP.Tidak ketinggalan, media massa Australia pun juga turut berperan. Christ Richard, seorang redaktur pada New Internationalist Magazine, Australia, turut aktif membantu penyelenggaraan seminar tentang Papua di Australia.Salah satu seminar yang pernah diselenggarakan bertempat di Gedung Dewan Serikat Buruh, di Victoria. Seminar tersebut diselenggarakan pada 25-26 Februari 2003 bertajuk West Papua Features.Selain nama-nama dan organisasi yang disebut di atas, diungkap juga nama-nama Duncan Ken (anggota parlemen Australia dari Tasmania), Susan Conely (Persekutuan Gereja Australia), John Barr (bekas Ketua Uniting Church).Pada tanggal 2 April 2006 lalu, bendera "Bintang Kejora" juga sempat dikibarkan oleh West Papua Association (AWPA) di Sydney. Pengibaran bendera tersebut dihadiri oleh lebih dari 100 orang peserta.Saat ditanya mengenai keterlibatan Partai Liberal Australia dalam gerakan separatis Papua, Effendi MS Simbolon mengaku belum memiliki data-data keterlibatan partai berkuasa itu."Hingga saat ini masih tiga partai saja yang diduga. Kita berharap Partai Liberal yang sekarang berkuasa masih konsisten mendukung kita. Kita juga masih akan mencek apakah ini berdasar partai atau perorangan," demikian Effendi. (fjr/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads