Disiplin Protokol Kesehatan Jadi Kunci Menuju Tatanan Kehidupan Baru

Erika Dyah - detikNews
Selasa, 07 Sep 2021 21:32 WIB
Petugas PPSU Bukit Duri menyelesaikan pembuatan mural yang berisi pesan waspada penyebaran virus Corona di kawasan Bukit Duri, Jakarta, Senin (31/8/2020). Mural tersebut dibuat agar meningkatkan kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan saat beraktivitas karena masih tingginya angka kasus COVID-19. Jumlah kasus harian Corona di DKI Jakarta pada minggu 30 Agustus 2020 memecahkan rekor dan menembus lebih dari 1.100 kasus per hari.
Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan, Maxi Rein Rondonuwu mengungkap pemerintah telah menyusun kajian dan strategi hidup berdampingan dengan virus Corona. Hal ini dilakukan sejak awal Agustus lalu untuk menyikapi kemungkinan pandemi COVID-19 yang berlangsung dalam waktu lama.

Menurutnya, pilihan terbaik bagi masyarakat saat ini ialah tetap menegakkan disiplin protokol kesehatan (prokes) sebagai jalan menuju tatanan kehidupan baru. Bahkan, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengingatkan agar negara-negara di dunia, termasuk Indonesia, mempersiapkan diri mengambil langkah-langkah jangka panjang.

"Tampaknya virus Corona penyebab COVID-19 akan hidup cukup lama bersama dengan kita, bisa tahunan. Strateginya adalah bagaimana menjalani hidup normal dengan mematuhi protokol kesehatan sembari menjalankan aktivitas perekonomian dengan aman," ujar Maxi dalam keterangan tertulis, Selasa (7/9/2021).

Dalam Dialog virtual Semangat Selasa Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9)-KPCPEN, Maxi mengatakan bahwa pemerintah melakukan upaya persuasif agar masyarakat melakukan prokes ketika berada di ruang publik.

"Misalnya masuk dan keluar melalui pintu berbeda, memindai barcode PeduliLindungi, pakai masker, cuci tangan, dan menjaga jarak," tambahnya.

Menurutnya, prokes merupakan dasar tatanan hidup baru bagi masyarakat. Tidak ada pilihan lain selain disiplin menjalankan protokol kesehatan sebagai salah satu kebiasaan baru.

Lebih lanjut, Maxi mengungkap telah disiapkannya peta jalan hidup bersama COVID-19 melalui asesmen terkait kebiasaan baru di level tertentu. Ia menjelaskan asesmen ini disesuaikan dengan status wilayah, misal level 1 dan 2 agak longgar dibandingkan dengan level 3 dan 4.

Selain itu, pemerintah juga menguatkan strategi tracing, testing, treatment (3T), serta percepatan vaksinasi di Tanah Air. Maxi menyebutkan saat ini rata-rata kasus harian COVID-19 di Indonesia sudah menurun. Kasus konfirmasi positif di Indonesia sudah mencapai 6,7%, atau mendekati yang disyaratkan WHO di bawah 5%.

"Semua itu tak lepas dari partisipasi masyarakat sehingga membuat kasus harian COVID-19 Indonesia menurun. Indikator BOR (Bed Occupancy Rate) juga membaik, saat ini di bawah 20%. Demikian juga indikator kematian harian di bawah 500 per hari," paparnya.

Maxi menilai Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) telah mampu menekan angka mobilitas masyarakat.

"PPKM menekan mobilitas 20-30% sehingga dapat menurunkan laju penularan. Namun penurunan ini jangan membuat euforia dan lengah sehingga abai prokes, misalnya tidak memakai masker. Abai prokes bisa membuat kasus COVID-19 kembali naik," pesannya.

Maxi menambahkan, jika dibandingkan negara tetangga, seperti Malaysia dan Vietnam mobilitas masyarakat Indonesia relatif rendah.

"Filipina berhasil menekan mobilitas bisa sampai 25-30% namun kasus naik. Sedangkan Vietnam mobilitas masih tinggi 60-70% sehingga kasusnya naik," terangnya.

Menurut Maxi, kasus COVID-19 berbanding lurus dengan kesadaran masyarakat dalam mematuhi prokes. Meski demikian ia mengaku tidak mudah untuk mengubah perilaku masyarakat. Sehingga masyarakat perlu selalu diingatkan, agar kasus yang sudah menurun tidak naik lagi. ia pun mengingatkan agar masyarakat tidak jemawa dan tetap mematuhi prokes yang ada.

Selain itu, lanjutnya, menurunnya kasus positif COVID-19 juga berkaitan dengan upaya percepatan vaksinasi yang dilakukan pemerintah untuk mencapai target herd immunity 208 juta penduduk yang mendapatkan dosis vaksin lengkap. Dalam hal ini dibutuhkan sekitar 400 juta dosis vaksin. Maxi menerangkan, hingga akhir Agustus, sekitar 100 juta dosis vaksin COVID-19 sudah disuntikkan kepada masyarakat.

"Program vaksinasi on the track. Percepatan vaksinasi berjalan seiring dengan ketersediaan vaksin. Mulai Agustus, stok vaksin di Indonesia mulai banyak sehingga bisa dilakukan vaksinasi 1,5 juta - 2 juta vaksinasi per hari. Untuk September ditargetkan bisa tersedia vaksin 80 juta, dengan demikian bisa dilakukan vaksinasi 2,3 juta - 2,5 juta vaksin per hari agar tercapai herd immunity hingga akhir tahun. Tapi yang terpenting adalah dilakukan vaksinasi sebanyak-banyaknya," tutur Maxi.

Ia pun menyinggung soal wacana adanya vaksin dosis ketiga (booster) dengan menegaskan bahwa vaksin penguat saat ini dosis ketiga baru ditujukan untuk tenaga kesehatan yang memiliki ririsko tinggi terpapar virus corona. Selain itu, WHO saat ini belum mengizinkan vaksin booster dengan alasan kesetaraan.

"Masih banyak masyarakat dunia yang belum divaksin. Rata-rata masyarakat dunia yang divaksin baru 10%. WHO menyarankan agar masyarakat selesai mendapat vaksin dosis 1 dan 2 dulu, baru memikirkan vaksin booster," tegasnya.

Dalam kesempatan ini, ia pun menyampaikan apresiasi atas dukungan tenaga kesehatan (Nakes), TNI Polri, swasta, dan masyarakat dalam mendukung vaksinasi.

"Semoga vaksinasi bisa tercapai di atas 2 juta suntikan per hari," harapnya.

Maxi pun menekankan bahwa masyarakat harus siap dan bersedia menerapkan prokes untuk hidup berdampingan dengan COVID-19. Tak hanya itu, masyarakat juga harus bersedia melakukan tracing dan testing, serta vaksinasi.

"Bagi yang belum vaksin, datanglah untuk mendapatkan vaksin untuk lindungi diri sendiri dan orang lain," ucapnya.