Tak Ada Jembatan Penghubung, Siswa di Sulbar Seberangi Sungai ke Sekolah

Abdy Febriady - detikNews
Selasa, 07 Sep 2021 16:35 WIB
Polman -

Sejumlah siswa di Kabupaten Polewali Mandar (Polman), Sulawesi Barat (Sulbar), harus menyeberangi sungai ketika berangkat sekolah. Sebab, tidak ada jembatan penghubung di jalur yang mereka lintasi saat ke sekolah.

Aksi nekat para siswa itu terjadi di Dusun Sanreko, Desa Tenggelang, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar. Para siswa terpaksa menerobos air sungai yang kerap meluap. Ketiadaan akses jalan lain memaksa anak-anak di dusun ini untuk mengalahkan rasa takut demi menuntut ilmu.

"Tiap hari mesti melewati sungai ini, tidak ada jalan lain, mesti melewati sungai," ujar salah satu anak, Mariana, kepada wartawan, Selasa siang (7/9/2021).

Siswa di Polman, Sulbar bertaruh nyawa seberangi sungai saat ke sekolah.Siswa di Polman, Sulbar, menyeberangi sungai saat ke sekolah. (Abdy/detikcom)

Diakui Mariana, tidak jarang dirinya gagal melanjutkan perjalanan menuju sekolah lantaran pakaian yang dikenakan basah saat mencoba menyeberangi sungai yang kerap meluap, apalagi saat musim hujan seperti sekarang ini.

"Kalau air besar, saya tidak ke sekolah karena biasa pakaian basah saat melintas. Terpaksa kita kembali (pulang), tidak bisa ke sekolah," ungkapnya sambil tertawa.

Bukan hanya siswa yang mengaku kesulitan karena tidak ada jembatan yang menjadi akses penghubung, warga yang melintasi jalur antardesa itu juga kerap mengeluh.

Salah satunya Nurjannah, yang mengaku kesulitan mendapatkan sembako saat air sungai meluap.

"Kalau musim hujan, kita tidak bisa ke mana-mana. Kalau tidak ada beras di kampung, kita menderita, biasa saya mencoba lewat pakai motor, tapi sering jatuh, " tuturnya.

Siswa di Polman, Sulbar bertaruh nyawa seberangi sungai saat ke sekolah.Warga yang hendak membeli kebutuhan harian juga harus melintasi sungai. (Abdy/detikcom)

Menurut Nurjannah, dulu pernah ada jembatan yang menghubungkan kedua sisi sungai selebar lebih-kurang 7 meter ini. Namun keberadaan jembatan tersebut tidak lama, lantaran hancur akibat terjangan banjir.

"Jembatannya dulu ada. Baru satu tahun berjalan, (jembatan) hanyut, sudah sangat lama, tidak pernah diperbaiki," terangnya.

Nurjannah berharap pemerintah segera membangun jembatan penghubung untuk mengatasi kesulitan yang dirasakan warga, khususnya anak-anak yang hendak ke sekolah. Apalagi, menurut dia, anak-anak di daerah ini juga harus berjalan kaki sejauh 1,5 kilometer untuk sampai ke sekolah.

"Semuanya mesti melewati sungai ini. Kalau deras arus, tidak bisa menyeberang. Terkadang anak-anak terkendala ke sekolah, biasa basah-basahan, orang tua juga harus berjaga-jaga, ada yang memikul anaknya untuk seberangi sungai. Tidak ada jalan lain, dari kampung ke sekolah, sekira 1,5 kilometer, ditempuh dengan berjalan kaki, " pungkas Nurjannah.

(nvl/nvl)