Trauma Berat, Anak Matanya Dicungkil Ortu Takut Ketemu Ibu

Hermawan Mappiwali - detikNews
Senin, 06 Sep 2021 13:56 WIB
poster
Foto: Ilustrasi. (Edi Wahyono/detikcom)
Gowa -

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA) Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (Sulsel) mengungkap AP (6), anak yang matanya dicungkil oleh kedua orang tuanya (ortu) mengalami trauma berat. AP disebut kini takut dengan ibunya sendiri.

"Trauma yang kita lihat ini dia seperti tidak mau melihat ibunya, takut melihat ibunya," kata Kabid Perlindungan Perempuan dan Anak Dinas PPA Gowa, Sutra, saat ditemui detikcom di RSUD Syekh Yusuf Gowa, Senin (6/9/2021).

Sutra mengatakan, bocah AP memang sudah tak bertemu lagi dengan ibunya sejak hari penganiayaan karena sang ibu diamankan polisi pada Kamis (2/9) pekan lalu. Namun indikasi takut kepada ibunya itu masih bisa dilihat berdasarkan pengamatan Dinas PPA dan tim psikolog yang mendampingi AP.

"Karena sebenarnya anak ini hubungan dengan ibunya sangat dekat sebelum kejadian. Sangat dekat, anak ini anak yang dimanja. Kenapa, karena dia cuma dua bersaudara, lelaki dan perempuan dan laki-laki umur 22 tahun sedangkan anak ini dia enam tahun, jadi jaraknya jauh," kata Sutra.

Tapi semenjak ibunya terlibat penganiayaan dengan ikut membantu mencungkil mata, korban tak lagi mencari-cari ibunya. Sutra menyimpulkan hal ini terjadi karena sang anak takut dengan ibunya.

"Ini anak yang paling dimanja oleh ibunya. Nah sejak kejadian itu, sampai sekarang dia tidak menyebut-nyebut dan mencari ibunya. Padahal hubungan dengan ibunya katanya sangat dekat menurut omnya," tutur Sutra.

Trauma Berat korban Dipantau Ketat

Dinas PPA Gowa sendiri telah menerjunkan tim psikolog dan psikiater untuk memantau perkembangan kondisi korban yang hingga kini disebut masih trauma berat.

"Pemberdayaan perempuan yang mewakili dengan keluarganya untuk melakukan persetujuan tindakan operasi seperti itu," kata Sutra.

"Selanjutnya kami melakukan trauma healing untuk anak-anak korban kekerasan dan kebetulan juga ada mahasiswa Psikolog UNM yang sementara KKP di tempat kami itu juga kami libatkan," katanya lagi.

Selain itu, lanjut Sutra, pendampingan juga akan terus diberikan setelah korban selesai menjalani perawatan di rumah sakit.

"Kami menunggu setelah perawatan korban di rumah sakit, apabila sudah sehat atau sembuh kami akan bawa ke rumah aman untuk melakukan tindakan terapi lanjutan memanggil psikolog dan psikiater," pungkas Sutra.

Lihat juga video 'Pengacara Sebut Korban Pelecehan Seks Pegawai KPI Masih Trauma':

[Gambas:Video 20detik]



(hmw/nvl)