Puluhan Ribu Buruh Makin Merangsek ke Istana Merdeka
Rabu, 05 Apr 2006 11:05 WIB
Jakarta -
Puluhan ribu buruh terus mengalir ke Istana Merdeka, Rabu (5/4/2006). Sebagian sudah merapat ke pagar Istana yang kini dijaga sangat ketat, dan sebagian lagi hanya berjarak sekitar 50 meter dari tempat Presiden SBY berkantor itu.Buruh yang tumpah ruah di sepanjang Jalan Medan Merdeka Utara dan Harmoni itu jumlahnya terus bertambah. Rekan-rekan mereka dari berbagai kota, seperti Banten, Serang, Depok, Bekasi, Surabaya, Karawang, Surakarta dan berbagai kota di Jawa Barat, terus berdatangan dari arah Jalan Thamrin, Stasiun Gambir dan Harmoni. Bahkan ruas Jalan Medan Merdeka Utara yang bersebelahan dengan Istana Merdeka yang selama ini tertutup bagi kendaraan sudah dipenuhi massa pendemo. Praktis jarak mereka hanya selemparan batu saja dengan istana yang berdiri megah itu.Sementara massa yang berdatangan dari arah Harmoni berkonsentrasi di pintu barat. Di lokasi ini sudah tidak ada jarak lagi antara mereka dengan aparat yang berdiri di luar pagar. Bahkan sempat terjadi aksi dorong mendorong. Mereka berusaha merangsek ke dalam Istana.Aparat keamanan yang semula jumlahnya bisa dihitung dengan jari dan sempat kewalahan kini berusaha mengimbangi jumlah massa. Sedikitnya ada 2.000 aparat yang diturunkan. Ini belum termasuk pasukan Paspampres yang berjaga-jaga di depan pagar Istana.Untuk pengamanan, dua unit water canon kini juga sudah disiapkan. Kedua unit mobil ini mengapit Istana.Sejumlah kordinator aksi dari berbagai elemen sempat naik ke atas mobil polisi untuk minta massa yang terus merangsek ke istana mundur. Karena perwakilan mereka dari beberapa daerah akan diterima Presiden SBY, tapi massa tetap bertahan dan terus meneriakkan "tolak revisi".Mereka membawa sejumlah bendera SPSI, logo pabrik, poster dan spanduk yang bertuliskan "Kami menolak revisi UU Nomor 13/2003", "Lebih baik kami mati bekerja", "Revisi UU Ketenagakerjaan adalah perbudakan di zaman modern", "DPR setuju revisi UU kami boikot partai" dan "SBY-Kalla jangan jadikan kami sapi perahan di zaman modern".
(umi/)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































