Pakar Paparkan Rahasia Jawa Timur Bisa Keluar dari Zona Merah

Syahputra Eqqi - detikNews
Jumat, 03 Sep 2021 09:53 WIB
Prof Hananiel, CEO National Hospital
Foto: IDI
Jakarta -

Provinsi Jawa Timur telah berhasil keluar dari zona merah COVID-19. Tercatat, 20 Kabupaten/Kota di Jawa Timur saat ini sudah masuk ke dalam zona oranye atau dapat diartikan sebagai zona dengan risiko penularan sedang. Sedangkan 18 daerah lainnya sudah berhasil masuk ke status zona kuning atau risiko penularan rendah.

Dalam pembukaan Klinik Swana Husada Managed by National Hospital di Gresik, Jawa Timur (2/9), CEO National Hospital, Prof Hananiel Prakasa Widjaya mengaku cukup puas atas keluarnya Jawa Timur dari zona merah. Profesor yang kerap disapa Prof Hans ini juga mengungkapkan bahwa pemberlakuan PPKM Darurat cukup efektif menurunkan angka penularan COVID-19.

Selain itu, Prof Hans juga mengungkapkan bahwa angka keterisian tempat tidur di National Hospital Surabaya sudah turun secara signifikan. Padahal, selama bulan Juli kemarin, pihaknya kewalahan menerima pasien COVID-19. Untuk dapat menangani pasien COVID-19, inovasi dilakukan seperti menggunakan telemedicine hingga penambahan kapasitas tempat tidur untuk ruang IGD.

Dalam penanganan COVID-19, National Hospital bekerja secara totalitas dengan mengerahkan SDM terbaik yang dimilikinya dari lintas disiplin ilmu.

"Jadi, bukan hanya pasien COVID-19 ditangani oleh dokter paru saja, tetapi juga ada penyertanya seperti dokter jantung, dokter penyakit dalam dan dokter lainnya. Jadi, multidisiplin dari tim adalah keunggulan kita dan digabung dengan teknologi yang moderen," ujar Prof Hans dalam keterangan tertulis Jumat (3/9/2021).

Apresiasi yang tinggi juga terkait kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta. National Hospital sangat mendukung upaya pemerintah dalam percepatan penanganan COVID-19 lantaran National Hospital merupakan pusat rujukan COVID-19 di Jawa Timur

"Pasien-pasien kami merupakan pasien yang ditanggung Kemenkes dan kita mensukseskan program-program yang ada. Kita selalu berusaha semaksimal mungkin melakukan tracing, kita selalu melakukan terapi yang optimal siapapun pasiennya," ujar Prof Hans.

Di sisi lain, Kepala Staf Kodam V/Brawijaya Brigjen TNI, Agus Setiawan mengungkapkan bahwa Provinsi Jawa Timur juga telah sukses dalam hal program vaksinasi. Hal tersebut tentunya tidak lepas dari kerja keras berbagai pihak, termasuk pelibatan sektor swasta dalam mendukung upaya percepatan penanganan pandemi COVID-19.

"Di Jawa Timur kita menggandeng semua pihak termasuk klinik swasta. Karena kita menganut sistem sporadik, artinya di tempat-tempat mana saja kita sediakan fasilitas untuk vaksinasi agar masyarakat tidak kesulitan," ujar Brigjen Agus Setiawan.

Perwira tinggi TNI bintang 1 itu menargetkan program vaksinasi bagi 80% warga Jawa Timur selesai pada akhir tahun 2021. Hal itu tentunya untuk menciptakan kekebalan masyarakat Jawa Timur dari penularan. Agus menambahkan, sebanyak 9,9 juta warga Jawa Timur telah menerima vaksin pertama dan sebanyak 5,5 juta di antaranya sudah menerima suntikan vaksin kedua.

Sementara itu, Prof Dr Kazan Gunawan yang turut mendampingi Brigjen TNI Agus Setiawan, mengungkapkan bahwa semua pihak perlu ikut berperan dalam meningkatkan health consciousness masyarakat pada masa pandemi ini.

Selain itu, Anggota Tim Mitigasi Dokter Pandemi COVID-19 Dr. Wirawan Jusuf, MPH. menambahkan, upaya percepatan vaksinasi juga perlu didukung dengan meningkatkan kemampuan tracing sebagai proses identifikasi untuk pencegahan penularan yang lebih lanjut. Upaya tersebut tentunya juga harus sejalan dengan peningkatan kemampuan faskes di semua daerah, termasuk ketersediaan obat yang dibutuhkan.

"Tetapi kita tidak bisa menggantungkan semuanya ke pemerintah tentunya, peran swasta menjadi penting sebagai partner pemerintah untuk mencapai penyediaan akses faskes yang memadai," ucap dr Wirawan.

Lihat juga video 'Satgas Covid-19 Sebut Varian Mu Bersifat Infeksius, Apa Artinya?':

[Gambas:Video 20detik]



(mul/ega)