Surat An Nasr, yang Menceritakan Kisah Sedih Rasulullah dan Umat Islam

Rosmha Widiyani - detikNews
Jumat, 03 Sep 2021 08:22 WIB
ilustrasi berdoa
Foto: Getty Images/AleksandarGeorgiev/Surat An Nasr, yang Menceritakan Kisah Sedih Rasulullah dan Umat Islam.
Jakarta -

Surat An Nasr menceritakan tentang kisah sedih Rasulullah SAW dan umat Islam. Dikutip dari Tafsir Ibn Katsir Juz' 30 (Part 30) karya Muhammad Saed Abdul-Rahman, An Nasr adalah surat terakhir yang diturunkan pada Rasulullah SAW.

"Tidak ada surat lengkap yang disampaikan pada Nabi SAW setelah An Nasr. Berdasarkan keterangan Abdullah bin Umar, surat ini disampaikan saat haji penghabisan pada Hari Tasyrik di Mina," tulis buku tersebut.

Ketika An Nasr diturunkan, sebetulnya umat Islam dalam kondisi berbahagia. Selain menguasai kembali kota Makkah, Islam juga mulai menunjukkan pengaruhnya di jazirah Arab.

Namun alih-alih surat An Nasr menceritakan tentang kemenangan dan kejayaan Islam, ayat ini menyelipkan kabar duka. Hanya sedikit sahabat Nabi SAW yang menyadari pesan ini, salah satunya Ibnu Abbas.

Pengetahuan Ibnu Abbas ini disampaikan dalam hadits berikut,

قَالَ كَانَ عُمَرُ يُدْخِلُنِى مَعَ أَشْيَاخِ بَدْرٍ ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ لِمَ تُدْخِلُ هَذَا الْفَتَى مَعَنَا ، وَلَنَا أَبْنَاءٌ مِثْلُهُ فَقَالَ إِنَّهُ مِمَّنْ قَدْ عَلِمْتُمْ . قَالَ فَدَعَاهُمْ ذَاتَ يَوْمٍ ، وَدَعَانِى مَعَهُمْ قَالَ وَمَا رُئِيتُهُ دَعَانِى يَوْمَئِذٍ إِلاَّ لِيُرِيَهُمْ مِنِّى فَقَالَ مَا تَقُولُونَ ( إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ * وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ ) حَتَّى خَتَمَ السُّورَةَ ، فَقَالَ بَعْضُهُمْ أُمِرْنَا أَنْ نَحْمَدَ اللَّهَ وَنَسْتَغْفِرَهُ ، إِذَا نُصِرْنَا وَفُتِحَ عَلَيْنَا . وَقَالَ بَعْضُهُمْ لاَ نَدْرِى . أَوْ لَمْ يَقُلْ بَعْضُهُمْ شَيْئًا . فَقَالَ لِى يَا ابْنَ عَبَّاسٍ أَكَذَاكَ تَقُولُ قُلْتُ لاَ . قَالَ فَمَا تَقُولُ قُلْتُ هُوَ أَجَلُ رَسُولِ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - أَعْلَمَهُ اللَّهُ لَهُ ( إِذَا جَاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ ) فَتْحُ مَكَّةَ ، فَذَاكَ عَلاَمَةُ أَجَلِكَ ( فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كَانَ تَوَّابًا ) قَالَ عُمَرُ مَا أَعْلَمُ مِنْهَا إِلاَّ مَا تَعْلَمُ

Artinya: Ibn 'Abbas berkata, suatu kali 'Umar membawa serta aku bersama para tetua perang badar. Sebagian dari mereka lalu protes,"Mengapa engkau membawa serta anak muda ini bersama kami? Kami memiliki anak sepertinya." 'Umar lalu berkata, "Kalian sudah tahu siapa dia."

Suatu hari, 'Umar lalu memanggil mereka dan mengajak serta aku (Ibn 'Abbas berkata) dan sepertinya 'Umar memanggilku saat itu untuk menunjukkan sesuatu dariku pada mereka. 'Umar kemudian berkata, "Menurut kalian, apa isi dari ayat "Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu Lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong (sampai surat selesai) (QS. An-Nasr [110] 1-3)?"

Sebagian dari mereka berkata, "Kita diperintah untuk memuji dan meminta ampun kepada Allah, ketika kita memperoleh pertolongan dan kemenangan". Sebagian lain menjawab,"kami Tidak tahu" atau tidak berkata apapun. 'Umar lalu bertanya kepadaku, "Hai Ibn 'Abbas, apa seperti itu juga yang akan engkau katakan?" Aku menjawab,"Tidak"."Lalu bagaimana menurutmu?" tanya 'Umar. "Itu adalah isyarat ajal Rasulullah SAW.

Allah memberi tahu Nabi Muhammad, ketika telah datang pertolongan Allah dan terbukanya kota yaitu kota Makkah, maka itu tanda ajalmu sudah dekat. Maka bertasbihlah dengan memuji kepada allah serta memintalah ampun. Sesungguhnya Allah maha menerima taubat" jawabku. 'Umar lalu berkata, "Tidak ada yang aku ketahui dari surat tersebut kecuali yang engkau ketahui." (HR Bukhari).

Menurut Ibnu Abbas, seperti dijelaskan dalam Tafsir Ibn Kathir, Rasulullah lebih rajin zikir dan melantunkan pujian atas Allah SWT. Rasulullah SAW juga mohon ampun pada Allah SWT atas segala kesalahan selama menjalankan tugas kenabian.

Surat An Nasr yang menceritakan kemenangan Islam dan menginformasikan kepergian Rasulullah SAW menghadap Allah SWT, sebetulnya memiliki satu arti penting lainnya. Ayat ini menegaskan kualitas kepemimpinan Nabi Muhammad SAW.

Jika pemimpin lain ikut merayakan keberhasilan setelah sukses melakukan revolusi, Nabi SAW tetap rendah hati dan hidup seperti biasa. Dia justru makin dekat dengan Allah SWT dan berharap selalu mendapat petunjuk Allah SWT.

Nabi SAW juga makin hati-hati dan mohon maaf atas semua kesalahan dan ketidaksempurnaan. Perbedaan lain adalah Nabi SAW tidak membawa misi sendiri saat berdakwah. Nabi SAW membawa misi dari Allah SWT bukan tujuannya sendiri.

Demikian penjelasan tentang cerita dalam surat An Nasr, semoga kita semua bisa mengambil hikmahnya.

(row/erd)