Bareskrim Usut Dugaan Pelecehan Seksual-Perundungan di Kantor KPI

Adhyasta Dirgantara - detikNews
Kamis, 02 Sep 2021 10:19 WIB
Jakarta -

Seorang pegawai Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) mengaku mengalami pelecehan seksual sesama pria dan perundungan oleh rekan kerja sejak 2012. Dittipidum Bareskrim Polri turun tangan membentuk tim menyelidiki kasus tersebut.

"Saya baru dapat informasi tadi pagi. Dittipidum akan turunkan tim untuk menyelidiki," ujar Dirtipidum Bareskrim, Brigjen Andi Rian Djajadi, kepada wartawan, Kamis (2/9/2021).

Kabareskrim Komjen Agus Andrianto meminta korban melapor ke kepolisian. Agus menyebut suatu kejadian sulit ditangani apabila tidak ada laporan.

"Kalau nggak ada laporan dari korbannya kan sulit kita tahu suatu kejadian itu terjadi," ucap Agus.

Pengakuan Korban Pelecehan

Sebelumnya, pengakuan pegawai KPI terkait dugaan pelecehan seksual dan perundungan oleh sesama rekan sekantor bikin miris. Sebabnya, perlakuan itu telah terjadi sejak 2012.

Korban bercerita kerap mendapatkan perundungan dan pelecehan seksual sesama pria dari rekan kerjanya yang juga pegawai KPI. Terparah, korban ditelanjangi dan difoto.

"Kejadian itu membuat saya trauma dan kehilangan kestabilan emosi. Kok bisa pelecehan jahat macam begini terjadi di KPI Pusat?" demikian keterangan tertulis korban, Kamis (1/9).

Korban khawatir foto telanjangnya itu akan disebar oleh rekan-rekannya. Selain itu, rekan kerja korban kerap menyuruh-nyuruh korban membelikan makan. Hal ini berlangsung selama 2 tahun.

"Padahal kedudukan kami setara dan bukan tugas saya untuk melayani rekan kerja. Tapi mereka secara bersama sama merendahkan dan menindas saya layaknya budak pesuruh," ujarnya.

Tahun ke tahun berjalan, berbagai perundungan diterima korban. Mulai dari diceburkan ke kolam renang, tasnya dibuang, hingga dimaki dengan kata-kata bernuansa SARA.

Pelecehan seksual tersebut membuat korban jatuh sakit dan stres berkepanjangan. Pelecehan dan perundungan itu, kata korban, mengubah pola mentalnya.

"Kadang di tengah malam, saya teriak-teriak sendiri seperti orang gila. Penelanjangan dan pelecehan itu begitu membekas, diriku tak sama lagi usai kejadian itu, rasanya saya tidak ada harganya lagi sebagai manusia, sebagai pria, sebagai suami, sebagai kepala rumah tangga. Mereka berhasil meruntuhkan kepercayaan diri saya sebagai manusia," sebut korban.