Peserta Pensiun Dini PT DI Demo

Peserta Pensiun Dini PT DI Demo

- detikNews
Selasa, 04 Apr 2006 14:29 WIB
Bandung - Gelombang unjuk rasa atas pemutusan hubungan kerja di PT Dirgantara Indonesia (DI) tak kunjung surut. Kali ini yang demo adalah peserta program pensiun dini ketika PT DI masih bernama Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN).Aksi demonstrasi digelar di halaman Gedung Pengadilan Negeri Bandung, Jalan RE Martadinata, Bandung, Selasa (4/4/2006). Mereka ini adalah gelombang PHK angkatan pertama pada tahun 1999 yang menimpa 4.035 orang. Mereka beraksi karena merasa telah ditipu oleh pihak manajemen PTDI. "Kami merasa dibohongi. Tepatnya lagi ditipu. Perhitungan rumusan uang pensiunan tidak benar," ungkap salah peserta aksi, R Soemarna, di sela aksi. Soemarna menjelaskan, pelaksanaan program pensiun dini ditawarkan pihak manajemen kepada pekerja dengan alasan perusahaan kolaps. Namun, setelah gelombang PHK itu terjadi, ternyata perusahaan tersebut tetap menerima sejumlah karyawan baru dengan gaji yang sangat besar. Soemarna mengaku hanya mendapatkan uang pensiunan sebesar Rp 30 juta. Ia mengaku seharusnya mendapatkan uang pensiunan lebih. Pasalnya uang pensiunan yang diberikan oleh perusahaan ternyata tidak termasuk dengan uang lain. Misalnya uang penghargaan kinerja dari IPTN dan uang pensiun dari Yayasan Dana Pensiun IPTN. "Rumus yang digunakan untuk menghitung dana pensiunan itu salah. Makanya kita gugat lagi untuk mendapatkan uang tambahan lainnya berupa uang pesangon, uang jasa, masa kerja, uang ganti rugi hak cuti," ungkapnya. Soemarno dkk menggugat bekas tempatnya bekerja untuk membayar sisa dana PHK yang belum terbayarkan sebesar Rp 75,49 miliar. Ratusan mantan pekerja PTDI tersebut tergabung ke dalam Forum Kerjasama Pensiunan IPTN atau disingkat dengan FKP-IPTN dengan jumah anggota sebanyak 4.035 orang. Hingga saat ini penyelesaian kasus tersebut masih berjalan di Pengadilan Negeri Bandung dan telah menjalani persidangan sebanyak 3 kali. Beberapa spanduk dan poster yang dibawa oleh ratusan pensiunan tersebut antara lain "Kami Dibohongi Ditipu Hingga Kami Sengsara," atau "Tolong Kembalikan Hak Kami yang Tertinggal". "Dulu yang mengambil pensiun dini ini dibilang pahlawan. Eh, ternyata kami benar-benar ditipu," keluh Soemarna kecut. (nrl/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads