Satgas Gandeng Pelaku Seni hingga Tokoh Agama Keroyokan Lawan Corona

Inkana Putri - detikNews
Selasa, 31 Agu 2021 08:05 WIB
wayang kardus
Foto: Dok. Polsek Puncu
Jakarta -

Pemerintah terus berupaya mengatasi pandemi COVID-19 di Indonesia. Dalam hal ini, pemerintah menggandeng para pelaku seni dan tokoh agama untuk menyebarkan protokol kesehatan melalui berbagai kegiatan.

Ketua Sub Bidang Komunikasi Publik Satgas COVID-19, Troy Pantouw mengatakan melibatkan seniman hingga tokoh lintas agama memang jadi hal penting dalam mendorong disiplin terhadap protokol kesehatan. Terlebih menurut Troy, disiplin prokes termasuk hal efektif dalam mengatasi pandemi.

"Memang kita harus sangat taat terhadap protokol kesehatan karena tidak ada cara efektif selain patuh seperti memakai masker, menjaga jarak, mengurangi mobilitas, dan menjaga kebersihan tangan kita. Melibatkan para seniman dan tokoh agama memang jadi hal penting karena kuncinya ada di situ. Dan memang tokoh-tokoh komunitas berperan dalam menyampaikan informasi terkait penanganan pandemi," ujarnya dalam acara 'Penyuluhan Protokol Kesehatan Kepada Pelaku Seni dan Tokoh Lintas Agama di Sumsel', Selasa (31/8/2021).

Hingga saat ini, Troy menjelaskan pihaknya telah melakukan berbagai sinergi dalam mengatasi pandemi. Bersama para pelaku seni, Satgas COVID-19 menggandeng band Padi Reborn dengan menciptakan lagu Ingat Pesan Ibu.

Di samping itu, pihaknya juga menggelar pertunjukan wayang golek Sunda dengan Lakon" 'Nyinglar Sasalad' atau rumah pertunjukan Minang Bagurau Mendunia. Adapun pertunjukkan ini digelar dengan menerapkan protokol kesehatan.

"Lagu Ingat Pesan Ibu adalah salah satu kolaborasi Satgas COVID-19 yang dilakukan bersama pelaku seni Padi Reborn. Acara-acara pertunjukkan wayang kulit dan golek, baru-baru ini kami bekerja sama membuat pesan-pesan panduan protokol kesehatan. Ini sudah kami sosialisasikan," katanya,

Sementara bersama tokoh lintas agama, pihaknya juga kerap menggelar diskusi di berbagai media. "Kemudian tokoh lintas agama, beberapa kali kami lakukan diskusi dan talkshow. Para tokoh lintas agama menyampaikan pesan-pesan di media, termasuk media kolaborasi," paparnya.

Ke depan, Troy menyebut pihaknya berupaya untuk memperbanyak kegiatan serupa di daerah-daerah di Indonesia. Hal ini mengingat pandemi COVID-19 masih belum usai, serta baik pelaku seni dan tokoh agama berperan penting dalam menyebar informasi.

"Ke depan yang mau kita lakukan adalah meningkatkan lebih gencar dan masif lagi dengan seluruh daerah bersama pelaku seni dan tokoh agama. Pasalnya, COVID-19 masih ada dan masih banyak orang yang disinformasi tentang COVID-19. Jadi, pelaku seni dan pelaku agama menjadi pemegang peran penting dalam memerangi hoax," ungkapnya.

Selain itu, Troy juga mengajak para pelaku seni dan tokoh lintas agama untuk mengajak masyarakat disiplin prokes dengan komunikasi kreatif.

"Kemudian pendeta, pastur, dan ulama dapat melakukan talkshow dan dialog dengan masyarakat setempat. Ini tidak bisa hanya bergantung dengan pemerintah pusat, memang kita punya media center, tapi bapak ibu bisa menggunakan media lokal sebagai perpanjangan tangan tentang penanganan pandemi dan bagaimana menegakkan protokol kesehatan," paparnya.

"Bagi pekerja seni, komunikasi kreatif bisa jadi menarik. Bisa dengan tarian dan sebagainya, komunikasi kan dengan kreatif. Dan gambar atau video harus dipakai dalam mengedukasi masyarakat. Jadi saya mengimbau kepada pekerja seni, ayo pakai cara-cara kreatif agar orang tertarik untuk melihat," tambahnya.

Sementara itu, salah satu Pekerja Seni dan Penggiat Budaya di Sumatera Selatan Taufik Wijaya mengatakan pihaknya juga turut mendukung penanganan pandemi. Salah satunya dengan menggelar pertunjukan sesuai prokes yang berlaku.

"Kawan-kawan pekerja seni merupakan salah satu yang terdampak pandemi COVID-19. Menariknya, memang karena dasarnya seniman mereka punya kepedulian terhadap hal ini. Kawan-kawan pekerja seni tetap melakukan kegiatan memproduksi karya dari rumah. Kami menggelar forum pertunjukan mini teater secara virtual dengan menerapkan protokol 5M," paparnya.

Menurunya, protokol kesehatan memang jadi hal yang perlu digencarkan di masyarakat. Bahkan, Taufik menilai disiplin prokes perlu jadi budaya meski wabah COVID-19 telah menurun atau hilang.

"Ada persoalan ketika kasus positif menurun, masyarakat menganggap COVID-nya sudah pergi. Ini problem yang banyak terjadi di Sumsel. Maka yang harus didorong 5M harus menjadi standar budaya baru. Artinya meskipun COVID-19 menurun, 5M tetap menjadi budaya dalam kehidupan kita," pungkasnya.

Lihat juga video 'Cemburu Buta, Pemuda Ajak Teman Keroyok Pria yang Nge-chat Pacarnya':

[Gambas:Video 20detik]



(akd/ega)