60 Tahun Dirahasiakan, Metode Penyiksaan Inggris Terungkap
Selasa, 04 Apr 2006 10:33 WIB
London - Setelah ditutup-tutupi selama beberapa dekade, foto-foto korban penyiksaan yang dilakukan personel Inggris selama era Perang Dingin, untuk pertama kalinya dipublikasikan. Publikasi ini terjadi setelah hampir 60 tahun, metode penyiksaan itu dirahasiakan pemerintah Inggris.Dalam foto-foto itu terlihat sejumlah orang yang mengalami kelaparan, kedinginan, kurang tidur, dan pemukulan di salah satu dari sejumlah pusat interogasi yang dikelola Kantor Perang Inggris di Jerman ketika Perang Dunia II berlangsung dan sesudahnya.Mereka yang disiksa dalam gambar-gambar tersebut bukan Nazi melainkan para tersangka komunis yang ditangkap pada tahun 1946 karena diduga mendukung Uni Soviet. Saat itu, Kantor Perang Inggris berupaya mencari informasi mengenai militer dan metode intelijen Uni Soviet. Lusinan perempuan juga ditahan dan disiksa.Kubu oposisi menyerukan Kementerian Pertahanan Inggris (MoD) untuk mengakui apa yang telah terjadi saat itu dan meminta maaf. Demikian seperti diberitakan The Guardian dan dilansir The Age, Selasa (4/4/2006)."Memang sudah terlambat untuk meminta pertanggungjawaban seseorang secara pribadi atau politik, namun belum terlambat bagi MoD untuk mengakui apa yang telah terjadi," ujar Nick Harvey, juru bicara oposisi Liberal Democrats.Apalagi selama ini ada anggapan bahwa otoritas Inggris tidak pernah menggunakan metode penyiksaan tawanan. "Anggapan bahwa Inggris tidak menggunakan penyiksaan selama Perang Dunia II dan sesudahnya karena hal itu dianggap tidak efektif adalah mitos yang telah berhasil disebarkan selama beberapa dekade," kata Sherman Carroll dari organisasi Yayasan Medis Penanganan Korban Penyiksaan.Ditegaskannya, pemerintah Inggris harus minta maaf dan membayar kompensasi bagi para korban penyiksaan yang selamat. Namun MoD mengabaikan seruan tersebut. Alasannya, hal-hal seputar pusat interogasi merupakan masalah Kantor Luar Negeri bukan MoD. Selama hampir enam dekade, foto-foto penyiksaan itu terus dirahasiakan. Namun kemudian koran terkemuka Inggris, The Guardian memuat foto-foto tersebut yang berhasil diperolehnya sesuai UU Kebebasan Informasi.
(ita/)











































