Sosok

Tanpa Rahim, Dita Melahirkan Anaknya dari Hati

Khairunnisa Adinda Kinanti - detikNews
Minggu, 29 Agu 2021 20:32 WIB
Jakarta -

Dita Anggraeni masih ingat saat menerima hasil pemeriksaan medisnya 10 tahun silam. Perempuan 29 tahun ini diketahui tidak akan bisa memiliki keturunan akibat MRKH, padahal saat itu dia akan menikah dengan Fahmi Ibrahim yang masih teman satu kampusnya.

Dita kala itu masih berusia 19 tahun, pertemuannya dengan Fahmi bermula di kampus Universitas Budi Luhur. Serius menjalin hubungan, mereka pun ingin melanjutkan ke jenjang pernikahan. Namun, badai besar menghadang langkah mereka.

Dita tak kuasa menahan tangis saat berjalan keluar dari ruang pemeriksaan di Klinik Anggrek, Obstetri Ginekologi FKUI-RSCM pada Senin, 19 Desember 2011. Hasil kesimpulannya disebutkan Dita mengalami disgensis uteri atau uterine agenesis.

"Bilangnya dokter di RSCM itu mendiagnosanya itu agenesis uteri, atau agenesis vagina. MRKH masih belum familiar," ungkap Dita. MRKH baru diketahuinya tiga tahun kemudian setelah browsing mencari tahu tentang kondisinya.

Ciri-ciri MRKH menurut hasil penelusuran Dita, sama dengan kondisi yang dialaminya. Tidak datang bulan, rahim tidak berkembang bahkan sama sekali tidak ada, dan saluran vaginanya pendek. "Oh mungkin ini ya yang dimaksud dokter," kenang Dita.

MRKH adalah kepanjangan dari Mayer-Rokitansky-Kuster-Hauser, diambil keempat nama dari penemunya. Mudahnya, MRKH ini adalah sindrom yang menyebabkan organ reproduksi perempuan tidak berkembang sempurna. Singkatnya, Dita tidak akan bisa berikan keturunan untuk pasangannya, Fahmi.

Komitmen keduanya untuk menikah pun diuji oleh cobaan hebat. Padahal keduanya merajut hubungan tidak singkat. "Saya ketemu Dita itu dulu tahun 2007," ujar Fahmi.

Waktu itu, Fahmi sedang mengerjakan proyek video pernikahan temannya. Kebetulan Dita yang jadi pagar ayu di pernikahan itu menarik perhatiannya. Keduanya pun lantas bertukar kontak.

Hubungan keduanya nyaris tidak berlanjut saat Dita divonis MRKH. Keduanya sempat putus karena tidak bisa membayangkan bagaimana harus menata rumah tangga mereka.

Dita berpikir sudah kodrat wanita untuk memberikan keturunan untuk keluarganya. Begitu pula tugasnya sebagai istri melayani suami akan terkendala karena Dita juga ternyata alami vaginismus.

Kondisi vaginismus ini membuat seorang wanita kerap alami nyeri saat berhubungan intim. Dita butuh penanganan medis bila ingin kondisinya membaik. Dita pun menceritakan kondisi ini kepada Fahmi. "Yang paling hancur sih waktu itu ibu saya," kenang Dita.

Hubungan keduanya lalu merenggang dan putus, rencana menikah tahun depan pun sirna. Delapan bulan kemudian, jodoh mempertemukan keduanya lagi dalam sebuah kegiatan kerelawanan.

Keduanya sepakat bahwa Dita diciptakan memang tidak bisa hamil dan melahirkan. Namun, bukan berarti tidak bisa menjadi orang tua.

Setelah menikah, keduanya membangun Rumah Anak Bumi dan Yayasan Laskar Bintang di Desa Cikuda, Parung Panjang. Bergerak di bidang pendidikan khusus untuk anak yatim dan dhuafa di lingkungan mereka.

Kenyataannya memang banyak anak-anak yang tumbuh besar tanpa kehadiran orang tua mereka. Situasi ini membuat Dita dan Fahmi merasa berjodoh untuk membaktikan hidup untuk anak-anak yang tidak mereka lahirkan.

"Walaupun ibaratnya saya tidak bisa melahirkan, tapi bisa ngurusin anak-anak yang tidak mampu di sekitaran," tutup Dita. Mereka butuh kasih sayang, perhatian, dan tempat mencurahkan perasaan sosok seorang ayah dan ibu.

(isf/gah)