Tingkat Kesembuhan RI 91%, Menkominfo: Jangan Siakan Perjuangan Nakes

Inkana Putri - detikNews
Sabtu, 28 Agu 2021 23:05 WIB
Tenaga kesehatan berada di garis depan penanggulangan pandemi. Dokter ini berbagai kisahnya yang tak gentar rawat pasien meski telah dua kali positif COVID-19.
Foto: AP Photo/Tatan Syuflana
Jakarta -

Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny G. Plate menyampaikan adanya peningkatan tingkat kesembuhan pasien COVID-19 dalam seminggu terakhir. Dilihat dari periode 20-27 Agustus, rata-rata jumlah pasien COVID-19 yang sembuh berkisar di atas 25.000 pasien sembuh per hari. Tingkat kesembuhan tertinggi tercatat pada 25 Agustus dengan 35.082 pasien sembuh.

Secara total, per 27 Agustus 2021, angka kumulatif kesembuhan sebanyak 3.689.256 orang sembuh. Mengingat jumlah kasus terkonfirmasi hingga tanggal tersebut 4.056.354 kasus, maka angka kesembuhan COVID-19 di Indonesia per 27 Agustus 2021 mencapai 91%.

"Kita semua harus bersyukur, perkembangan penanganan pandemi COVID-19 secara nasional menunjukkan hasil yang baik. Angka kesembuhan 91% ini cukup tinggi," ujarnya dalam keterangan tertulis, Sabtu (28/8/2021).

"Keterangan Sekretariat Kabinet RI, bahkan angka kesembuhan kita pada 24 Agustus lalu saja sudah lebih tinggi dari rata-rata dunia. Pada saat itu angka kesembuhan kita adalah 89,97%, sementara rata-rata dunia mencapai 89,5%," imbuhnya.

Lebih lanjut Johnny menyampaikan khusus DKI Jakarta, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menyatakan angka kesembuhan COVID-19 mencapai 97,5%, atau lebih tinggi dari nasional. Sementara itu, per 27 Agustus 2021, total jumlah orang yang dinyatakan sembuh di DKI Jakarta sebanyak 827.674 orang sembuh.

Di samping DKI Jakarta, tren positif pertambahan jumlah orang sembuh juga terlihat di provinsi lain, terutama Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatera Utara, DI Yogyakarta, dan Jawa Tengah.

"Tingginya tingkat kesembuhan pasien ini tak lepas dari perjuangan para pahlawan kita, para tenaga kesehatan juga relawan yang bekerja keras mengabdikan diri dalam merawat pasien COVID-19. Kita tidak bisa mengabaikan, bahwa tugas mereka di lapangan sangat berisiko menyebabkan dirinya dan orang-orang terdekatnya terpapar virus, bahkan hingga kehilangan nyawa," katanya.

Johnny mengatakan angka tersebut tentunya tak lepas dari jasa dan dedikasi para seluruh tenaga kesehatan, relawan, serta para pekerja pendukung lainnya. Bahkan, tidak sedikit tenaga kesehatan yang gugur dalam pengabdiannya dalam menangani COVID-19.

Hingga 3 Agustus 2021, menurut IDI, 640 orang dokter meninggal akibat COVID-19. Beberapa tenaga kesehatan lain juga meninggal karena COVID-19, termasuk para perawat dan petugas di rumah sakit atau pusat isolasi. Oleh karena itu, pemerintah menomorsatukan para tenaga kesehatan dalam mendapatkan vaksin booster guna perlindungan tambahan.

"Jasa para pejuang kesehatan di garda terdepan penanganan COVID-19 ini harus kita hargai. Jangan sia-siakan perjuangan dan pengorbanan para pahlawan ini. Bagaimana caranya? Tentu saja dengan memberikan perlindungan kesehatan maksimal pada diri kita masing-masing. Ayo kita berupaya memutus mata rantai penularan dan menghindarkan diri dari risiko terkena sakit berat. Caranya, dengan selalu disiplin protokol kesehatan, terutama memakai masker, bekerja sama dengan petugas dalam 3T, juga segera lakukan vaksinasi," pungkasnya.

(akd/ega)