Tak Jelas Siapa Ayah Bayi yang Dilahirkan Dini
Selasa, 04 Apr 2006 01:10 WIB
Medan - Dini memang masih muda, baru berusia 20 tahun. Sabtu (1/4/2006), Dini baru melahirkan anaknya yang sehat. Sayang tak diketahui siapa ayahnya.Tapi jangan salah sangka dulu, Dini yang dimaksud adalah seekor gajah betina yang ditangkarkan di Pusat Latihan Gajah di Taman Wisata Alam (TWA) Holiday Resort, Kabupaten Labuhan Batu, Sumatera Utara.Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumatera Utara (Sumut) II, Luhut Sihombing merasa perlu untuk melihat langsung kesehatan Dini dan anaknya yang baru lahir. Bagi keluarga besar BKSDA, kelahiran itu merupakan berita besar. Apalagi ayah dari bayi yang dilahirkan ini masih belum jelas."Kondisi Dini dan anaknya sejauh ini dilaporkan sehat. Saya masih di perjalanan menuju ke sana," kata Luhut Sihombing kepada detikcom melalui telepon, Senin (3/4/2006).Dini merupakan gajah pertama yang melahirkan di Pusat Latihan Gajah di Taman Wisata Alam (TWA) Holiday Resort, Kabupaten Labuhan Batu. Dini melahirkan pada Sabtu (1/4/2006) sekitar pukul 20.00 WIB. Bayi yang dilahirkan Dini merupakan gajah jantan. Menurut Luhut, Bagi BKSDA Sumut II, ini merupakan pertama kali ada peristiwa kelahiran anak gajah di Holiday Resort. Bahkan menurut dia, ini merupakan peristiwa pertama di Sumatera. Dulu di Way Kambas, Lampung, juga pernah lahir seekor anak gajah, namun langsung mati. Jadi peristiwa kelahiran di penangkaran ini, bisa dikatakan yang pertama. Saat ini tim medis terus melakukan pengamatan kondisi kesehatan kdua gajah tersebut.Dini yang berusia sekitar 20 tahun, ditangkar di Holiday Resort sejak tahun 1993. Sejauh ini masih belum diketahui berapa lama usia kandungan Dini sebelum melahirkan. Namun kata Luhut, biasanya gajah mengandung antara 18 hingga 24 bulan. Termasuk yang belum diketahui, siapa yang bertanggung jawab atas kehamilan Dini."Memang belum jelas siapa yang bertanggung jawab atas kehamilan Dini, soalnya ada empat gajah jantan di sana," kata Luhut sambil tertawa. Tetapi, kata Luhut, kemungkinan besar adalah Dargo, gajah jantan berusia sekitar 20 tahun. Dia pimpinan kelompok gajah di komplek penangkaran ini. Dalam kehidupan kelompok gajah, biasanya ketua kelompok yang biasanya menghamili gajah betina.Menurut Luhut, kelahiran bayi gajah ini menjadi penting, karena habitat gajah di Sumut terus menurun. Gajah-gajah itu bermatian. Warga sekitar meracun gajah tersebut karena merasa terganggu dengan kehadiran gajah yang merusak tanaman di kebun atau ladang mereka. Pada Februari 2006 lalu, diketahui ada enam ekor gajah yang mati diracun. Kemudian pada tahun 2003 ada 17 yang juga mati akibat diracun.Sebenarnya, kata Luhut, justru justru warga yang mengambil alih kawasan habitat mereka. Perambahan kawasan lindung terus terjadi di Sumut, termasuk Taman Wisata Alam yang berada di perbatasan antara Kabupaten Labuhan Batu dan Tapanuli Selatan. Dari 1.963,75 hektar areal TWA Holiday Resort, hampir 80 persennya rusak. Deforestasi hutan terus berlangsung. Hutan berganti dengan lahan sawit, karet dan tanaman perkebunan lainnya.Keberadaan TWA Holiday Resort, justru menjadi benteng untuk menahan laju kepunahan habitat gajah di Sumatera. Areal yang berjarak sekitar 350 kilometer dari Medan ini, sekarang memiliki 17 ekor gajah, termasuk si bayi jantan yang belum diberi nama. Gajah-gajah ini berasal dari gajah liar yang diamankan untuk selanjutnya "disekolahkan" seperti halnya di Way Kambas.Sebagian gajah di sini sudah pandai bermain bola, baris-berbaris, lomba lari, memberi hormat hingga mengalungkan bunga. Beberapa di antara mereka bernama Chicilia, Cerry, Nurhalimah, Tongseng, Vibi Alpionita, Poppy, hingga Dwiki Pandawa.
(ddn/)











































